Shalat Dhuha

Writed by:  Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I

Pengertian Shalat Dhuha

Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu matahari sedang naik. Sekurang_kurangnya shalat ini adalah dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat, atau dua belas rakaat. [Lihat Mohammad Rifa’i, Fiqih Islam Lengkap, (Semarang: CV. Toha Putra, 1979), hal. 278]

Hukum Shalat Dhuha

Syaikh Abdul Aziz bin Abdulaah Bin Baz dalam kitab Majemu’ Fatawa mengatakan bahwa hukum shalat Dhuha adalah sunah muaakkad ( yang ditekankan ). Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan, “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi wasiat kepadaku dengan tiga hal yang tidak pernah aku tinggalkan hingga meninggal dunia yaitu puasa 3 hari dalam sebulan, 2 rakaat shalat Dhuha, dan hanya tidur setalah melakukan shalat witir.“ [Hadist shahih, diriwayatkan oleh Al_Bukhari dan Muslim]

Juga berdasarkan hadists Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kekasihku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan tiga hal yang tidak akan saya tinggalkan selama saya hidup, yaitu puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha dan tidak tidur hingga saya witir dahulu.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata, “Kedua hadits shahih ini adalah hujjah yang kuat yang menunjukkan disyariatkannya shalat Dhuha, bahkan hukumnya adalah sunnah muakkad. Karena ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada seseorang, berarti itu merupakan wasiat untuk seluruh umatnya, bukan khusus bagi orang itu saja, kecuali bila ada dalil yang menunjukkan kekhususannya. Demikian juga halnya dengan perintah dan larangan beliau, maka hukumnya adalah umum, kecuali bila ada dalil yang menunjukkan kekhususannya. Misalnya ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Ini khusus bagimu saja.” Keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak melakukannya secara rutin tidaklah menghilangkan sunnahnya perbuatan itu. Karena terkadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan suatu perbuatan untuk menunjukkan bahwa perbuatan itu disyariatkan. Lalu terkadang beliau meninggalkannya untuk menunjukkan bahwa perbuatan itu tidaklah diwajibkan.“ [Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mensyarahnya dari kitab Bulughul Maram hadits no. 415]

Imam An_Nawawi mengunggulkan pendapat bahwa shalat Dhuha itu hukumnya adalah sunnah muakkad, setelah beliau memaparkan hadits_hadits dalam persoalan itu. Beliau mengatakan bahwa hadits_hadits itu semuanya sejalan, tidak ada pertentangan di antaranya bila diteliti. [Lihat An_Nawawi, Syarah Shahih Muslim, hal. 5/237; lihat juga Al_Hafizh Ibnu Hajar Al_Asqalani, Fathul Bari, hal. 3/57]

Keutamaan Shalat Dhuha

Pertama, hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Pada setiap pagi, setiap sendi tubuh bani Adam harus bersedekah. Setiap tasbih bisa menjadi sedekah. Setiap tahmid bisa menjadi sedekah. Setiap tahlil bisa menjadi sedekah. Setiap takbir bisa menjadi sedekah. Setiap amar ma’ruf nahi munkar bisa menjadi sedekah. Semua itu dapat digantikan dengan dua rakaat yang dilakukan pada waktu Dhuha.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin wa Qashriha, hadits no. 720]

Kedua, hadits Buraidah radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia memiliki 360 sendi dalam tubuhnya. Hendaknya ia bersedekah untuk semua sendi tersebut.” Para sahabat bertanya, “Siapa di antara kita yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” beliau menjawab, “Dahak dalam masjid yang engkau pendam dalam tanah, dan sesuatu yang engkau singkirkan dari jalan bisa menjadi sedekah. Kalau tidak bisa dilakukan, dapat diganti dengan dua rakaat di waktu Dhuha. Itu sudah cukup sebagai sedekah.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Al_ Adab, yang dishahihkan oleh Al_Albani dalam kitab Shahih Sunan Abi Dawud, hal. 3/984]

Ketiga, hadits Nuaim bin Hammar yang menceritakan bahwa ia pernah men dengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa tidak mampu melakukan empat rakaat di awal siang untuk diri_Ku, karena Aku akan mencukupkan dengannya untuk sisa akhir waktunya.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab At_Tathawwu’, yang dishahihkan oleh Al_Albani dalam kitab Shahih Sunan Abi Dawud, hal. 1/239]

Keempat, hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu tentang keutamaan shalat Dhuha bagi orang yang duduk di masjid setelah shalat Shubuh hingga terbit matahari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan shalat Shubuh secara berjama’ah, kemudian duduk dan berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari, kemudian ia shalat dua rakaat, ia akan memperoleh pahala ibadah haji dan umrah, sempurna, sempurna, dan sempurna. [Hadits hasan, diriwayatkan oleh At_Tirmidzi dalam kitab Al_Jum’at, hadits no. 586, dihasankan oleh Muhammad Nashiruddin Al_Albani dalam kitab Shahih Sunan At_Tirmidzi, hal. I/181]

Waktu Shalat Dhuha

Waktu shalat sunnah Dhuha dari mulai meningginya matahari satu tombak hingga sebelum matahari berada di tengah langit, sebelum tergelincir. Yang paling afdhal, melakukan shalat itu ketika matahari sedang terik menyengat. Hal ini berdasarkan hadits Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat orang_orang yang khusyu beribadah adalah pada waktu anak_anak unta (fishal) kepanasan.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, hadits no. 748]

Dengan demikian, barangsiapa yang mengerjakan shalat sunnah Dhuha setelah matahari meninggi hingga setinggi satu tombak, maka tidak mengapa. Namun barangsiapa yang mengerjakan shlat sunnah Dhuha ketika panas matahari terik sebelum waktu yang dilarang untuk shalat, maka itu waktu yang paling afdhal. Wallahu ‘alam

Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

Menurut pendapat yang shahih mengenai jumlah rakaat shalat Dhuha adalah tidak ada batasannya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiat kan dilakukannya dua rakaat pada waktu Dhuha serta menjelaskan keutamaan-nya. Sementara dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat sunnah Dhuha empat rakaat. Dalam hadits Aisyah lainnya disebutkan bahwa Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat sunnah Dhuha empat rakaat atau lebih bila dikehendaki oleh Allah.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat sunnah Dhuha enam rakaat. [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ath_Thabrani dalam kitab Al_Ausath hadits no. 1067]

Kemudian dari Ummu Hani binti Abi Thalib juga diriwayatkan dengan shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di rumah Ummu Hani pada hari Pembebasan Kota Makkah sebanyak delapan rakaat setelah matahari meninggi mulai siang. Ummu Hani menyebutkan bahwa belum pernah kulihat beliau shalat lebih ringkas dari shalat itu, namun beliau tetap menyem purnakan ruku’ dan sujud. [hadits shahih, diriwayatkan oleh Al_Bukhari dan Muslim]

Demikianlah pembahasan seputar shalat dhuha kali ini. Saya memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan nama-nama_Nya yang agung dan sifat-sifat_Nya yang mulia agar menjadikan amalan saya yang sedikit ini menjadi amalan yang berkah dan ikhlash semata-mata karena mengharapkan wajah_Nya yang mulia, serta menjadikan sarana pendekat kepada surga_Nya bagi penulis, penerbit, pembaca, dan orang-orang yang berpartisipasi dalam menyebarkan tulisan ini.

Saya juga memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar tulisan ini bermanfaat bagi saya dan semua orang yang membutuhkannya. Sesungguhnya Allah-lah sebaik_baik tempat memohon dan semulia_mulia tempat berharap.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s