Shalat Tahajud

Writed by:  Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I

Pengertian Tahajjud

Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al_Qahthani dalam kitab Shalatut Tathawwu’ Mafhum wa Fadhailu wa Aqsam wa Anwa’ wa Adab fi Dhau’i Al_Kitabi wa As_Sunnati mengatakan bahwa “hajada ar_rajulu” secara bahasa artinya adalah laki_laki tidur malam. Dapat diartikan juga shalat di waktu malam. Adapun orang yang bertahajjud, artinya adalah orang yang bangun malam untuk melakukan shalat. [Lihat Ibnu Manzhur, Lisanul Arab, hal. 3/234; lihat juga Fairuz Abadi, Kamus Al_ Muhith, hal. 418]

Dengan demikian, shalat sunnah tahajjud adalah shalat yang dikerjakan pada malam hari dengan waktu dan syarat_syarat yang telah ditentukan.

Hukum Shalat Sunnah Tahajjud

Hukum shalat sunnah tahajjud adalah sunnah muakkad. Hal ini berdasarkan dalil_dalil di dalam Alquran dan As_Sunnah serta ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah_mudahan Tuhan_mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.  [QS. AlIsra’ (17): 79]

Sebagaimana juga dalam firman_Nya yang lain, “Sesungguhnya kami Telah menurunkan Alquran kepadamu (Hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka Bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka. Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada_Nya pada bagian yang panjang dimalam hari. [QS. Al_Insan (76): 23-26]

Adapun dalil dari As_Sunnah bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memberi anjuran untuk melakukan shalat sunnah tahajjud melalui sabda beliau sebagai berikut, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram. Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Ash_Shiyam, hadits no. 1163]

Keutamaan Shalat Sunnah Tahajjud

Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al_Qahthani dalam kitab Shalatut Tathawwu’ Mafhum wa Fadhailu wa Aqsam wa Anwa’ wa Adab fi Dhau’i Al_Kitabi wa As_Sunnati mengatakan bahwa ada beberapa keutamaan shalat sunnah tahajjud yang amat besar keutamaannya.

1. Perhatian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap shalat malam (tahajjud) sampai kedua telapak kaki beliau bengkak_bengkak.

Diriwayatkan dari AlMughirah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia menceritakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam (tahajjud) hingga kaki neliau bengkak. Ada yang bertanya: Kenapa engkau berbuat begitu wahai Rasulullah! Bukankah Allah telah mengampuni dosa_dosamu yang terdahulu dan yang akan dating?” Beliau menjawab, “Apakah tidak selayaknya aku menjadi hamba yang bersyukur.” [Hadits shahih, diriwayat kan oleh Al_Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al_Bukhari dalam kitab At_Tafsir, hadits no. 4873; diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shifatul Munafiqin, hadits no. 2819]

2. Shalat malam (tahajjud) adalah penyebab besar masuk ke dalam surga.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu bahwa ia menceri-takan, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  tiba di Madinah, kaum muslimin berkumpul mengerumuni beliau. Sebagian di antara mereka berkata: Rasulullah sudah dating, Rasulullah sudah datang,” sebanyak tiga kali. Aku pun ikut dating di tengah kerumunan orang banyak untuk dapat melihat beliau. Ketika wajah beliau terlihat jelas olehku, aku pun segera menyadari bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta. Yang pertama kali terdengar olehku dari ucapan beliau adalah, “Wahai kaum muslimin! Sebarkanlah salam, berikanlah makan kepada fakir miskin, peliharalah hubungan silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang banyak sedang tertidur lelap; niscaya kalian akan masuk surga dengan aman.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad dan At_Tirmidzi]

3. Shalat malam (tahajjud) termasuk penyebab terangkatnya derajat di kamar_ kamar surga.

Diriwayatkan dari Abu Malik Al_Asy’ari radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dalam surga itu terdapat kamar_kamar yang bagian luarnya memperlihatkan sisi_sisi dalamnya, dan bagian dalamnya memperlihatkan sisi_sisi luarnya; Allah mempersiapkannya bagi orang yang suka memberi makan fakir miskin, selalu berbicara lembut, melakukan banyak puasa, menyebarkan salam, dan bangun malam ketika orang banyak sedang tidur nyenyak.” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ahmad, At_Tirmidzi, dan Ibnu Hibban]

4. Orang_orang yang memelihara shalat malah (tahajjud) adalah muhsinun yang berhak mendapatkan rahmat Allah Ta’ala dan surga_Nya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” [QS. Adz_DZariyat (51): 17-18]

5.  Allah memuji orang_orang yang bangun malam termasuk hamba_hamba Nya yang shalih dan hamba_hamba ar_rahman. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat al_furqan ayat 64  sebagai berikut: “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” [QS. Al_Furqan (25): 64

6. Allah berfirman memberikan persaksian terhadap iman mereka yang sem-purna. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala sebagai berikut: “Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang kami berikan.” [QS. As_Sajadah (32): 15-16]

7. Allah tidak menyamakan mereka dengan yang lain dari kalangan yang tidak memiliki sifat seperti mereka.

(Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. [QS. Az_Zumar (39): 9]

8. Shalat malam (tahajjud) dapat menghapus dosa_dosa dan menghilangkan kesalahan.

Diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diriwayatkan bahwa beliau bersabda, “Hendaklah kalian semua melakukan shalat malam (tahajjud). Karena itu adalah kebiasaan orang_orang shalih sebelum kalian, sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah, penghapus kesalahan, dan pencegah dari dosa.” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh At_Tirmidzi hadits no. 3549]

9. Shalat malam (tahajjud) adalah shalat yang paling utama setelah shalat wajib.

Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan secara marfu’ disebutkan, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram. Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Ash_Shiyam, hadits no. 1163]

10. Kehormatan seorang muslim terletak pada shalat malam (tahajjud).

Berdasarkan hadits dari Sahal bin Saad radhiyallahu ‘anhu bahwa Jibril pernah datang kepada Nabi seraya berkata, “Wahai Muhammad ! Silahkan engkau hidup sesukamu, karena engkau akan mati juga. Cintailah siapa saja yang engkau kehendaki, karena engkau pasti akan berpisah dengannya. Berbuatlah sesuka hatimu, karena engkau akan diberi ganjaran.” Kemudian Jibril melanjutkan, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya kehormatan seorang muslim itu pada shalat malam (tahajjud). Kemuliannya adalah ketika ia tidak membutuhkan (meminta_minta dari) orang lain.” [Hadits hasan, diriwayat kan oleh Al_Hakim. Hadits ini dihasankan oleh Muhammad Nashiruddin Al_Albani dalam kitab Silsilatu Al_Hadits Ash_Shahihah, hadits no. 831]

11. Shalat malam (tahajjud) menyebabkan pelakunya berhak mendapatkan iri dari orang lain.

Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak dibolehkan hasad selain terhadap dua orang: Orang yang diberi anugerah hapalan Alquran, lalu ia gunakan untuk melakukan shalat malam dan shalat di siang hari; dan kepada orang yang Allah berikan anugerah harta, lalu ia gunakan untuk berinfak siang dan malam.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, hadits no. 815]

12. Membaca Alquran dalam shalat malam (tahajjud) adalah harta yang tidak ternilai.

Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan shalat dengan membaca 10 ayat Alquran, maka akan dihindarkan dirinya sebagai orang_orang yang lalai. Barangsiapa yang melakukan shalat dengan membaca 100 ayat, maka akan ditetapkan dirinya sebagai orang_orang yang khusyu’. Barangsiapa melakukan shalat dengan membaca 1000 ayat, maka akan ditetapkan dirinya sebagai muqanthirin.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Syahru Ramadhan, hadits no. 1398]

Adapun maksud dari muqanthirin adalah orang yang mendapatkan pahala sebesar qunthar (sebesar gunung). [Lihat Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al_Qahthani dalam kitab Shalatut Tathawwu’ Mafhum wa Fadhailu wa Aqsam wa Anwa’ wa Adab fi Dhau’i Al_Kitabi wa As_Sunnati, hal. 110]

Waktu Melaksanakan Shalat Sunnah Tahajjud

Shalat malam (tahajjud) boleh dilaksanakan di awal malam, pertengahan, atau akhir malam. Akan tetapi yang paling afdhal adalah shalat di sepertiga malam terakhir. Dasarnya adalah hadits dari Amru bin Habasah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kondisi terdekat seorang hamba dari Rabbnya adalah pada pertengahan malam terakhir. Bila engkau mampu untuk termasuk orang berdzikir pada waktu itu, maka lakukanlah.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh At_Tirmidzi, Abu Daud, dan An_Nasa’i dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al_Albani dalam kitab Shahih Sunan Abi Daud, hal. III/183]

Kemudian hadits yang semangkin memperjelas persoalan ini adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita subhanahu wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika malam tinggal sepertiga yang terakhir. Allah berfirman: Siapa yang berdoa kepada_Ku, niscata akan Aku kabulkan. Siapa yang memohon kepada_Ku, niscaya akan Aku perkenankan. Siapa yang memohon ampunan kepada_Ku, niscaya akan Aku beri ampunan.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Al_Bukhari dan Muslim]

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha diriwayatkan bahwa ia pernah ditanya, “Amalan apakah yang paling disukai Rasulullah?” Aisyah menjawab, “Yang rutin dilakukan.” Aku (perawi) bertanya, “Kapan beliau mulai bangun malam?” Aisyah menjawab, “Beliau biasa terbangun bila mendengar teriakan (kokokan ayam jantan).” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Al_Bukhari dan Muslim]

Dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang lain disebutkan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa terbangun tengah malam sebatas yang dikehendaki  Allah, dan ketika datang fajar, beliau pasti telah menamatkan sebagian dari Alquran.” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab taththawwu, hadits no. 1316]

Jumlah Rakaat Shalat Sunnah Tahajjud

Shalat sunnah tahajjud tidak terbatasi oleh jumlah rakaat tertentu. Dasarnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat malam itu dua_dua rakaat. Apabila salah seorang diantara kamu khawatir akan kedapatan waktu shubuh, hendaknya ia berwitir satu rakaat sebagai penutup dari shalat yang dilakukan sebelumnya.” Hadits shahih, diriwayatkan oleh Al_Bukhari dan Muslim]

Akan tetapi yang paling utama adalah dengan mencukupkan sebelas rakaat saja, atau 13 rakaat. Karena demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat antara usai shalat isya’ hingga fajar sebanyak sebelas rakaat, Dan berwitir satu rakaat. [Hadits shahih, diriwayatkan Mulsim]

Adab_Adab Shalat Sunnah Tahajjud

1.  Ketika hendak tidur, hendaknya berniat untuk bangun malam.

Dengan tidurnya itu, meniatkan untuk memperkuat tubuh agar mampu beribadah dan mendapatkan pahala atas tidurnya itu. Dasarnya adalah hadits dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu  bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi pembaringannya sambil berniat untuk bangun malam, lalu tertidur sehingga tidak sempat melakukannya, pasti Allah tuliskan pahala dari niatnya. Dan tidurnya itu menjadi sedekah buat dirinya dari Allah Ta’ala.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh An_Nasa’i dalam kitab Qiyamul Lail wa Tathawwu’un Nahar, hadits no. 687]

2. Mengusap wajah untuk menghilangkan kantuk ketika terbangun, lalu berdzikir dan bersiwak.

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al_Bukhari dan Muslim dari Hudzaifah bin Al_Yaman radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bangun malam, beliau menggosok gigi dengan siwak.” Dan berdoa dengan doa bangun tidur lainnya, dan terus berwudhu sebagaimana yang diperintahkan Allah Ta’ala. [Lihat Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al_Qathani, Hishnul Muslim, hal. 12-16]

3. Membuka shalat tahajjud dengan shalat sunnah dua rakaat.

Hal ini berdasarkan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sabda beliau, sebagaimana dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan, “Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bangun malam, beliau memulai shalatnya dengan dua rakaat ringkas.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, hadits no. 767[

4. Dianjurkan melakukan shalat tahajjud di rumah.

Hal ini berdasarkan hadits dari Zaid bin Dzabit radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya kalian shalat di rumah kalian. Sesungguhnya shalat yang terbaik bagi seorang hamba adalah di rumahnya, kecuali shalat wajib.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Al_Bukhari dan Muslim]

5. Secara rutin bangun malam dan tidak meninggalkannya

Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya, “Wahai Abdullah! Janganlah engkau seperti si Fulan. Dahulu ia rajin sekali shalat malam, sekarang ia sudah meninggalkannya.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim hadits no. 1119]

6. Apabila terserang kantuk, hendaknya meninggalkan shalat dan tidur hingga hilang kantuknya.

Berdasarkan hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seseorang di antara kalian mengantuk ketika ia sedang shalat, hendaknya ia tidur hingga hilang rasa kantuknya. Karena kalau ia shalat dalam keadaan mengantuk, bisa jadi ketika ia meminta ampunan kepada Rabbnya, ia malah mencaci maki dirinya sendiri.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Al_Bukahri dan Muslim]

7. Dianjurkan untuk membangunkan istri.

Berdasarkan hadits Abu Sa’id Al_Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahuma diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau ber sabda, “Apabila seseorang bangun di tengah malam, lalu ia membangunkan istrinya, lalu keduanya shalat dua rakaat saja, maka keduanya akan ditetapkan sebagai laki_laki dan wanita yang banyak berdzikir kepada Allah.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Iqamatush Shalat, hadits no. 1335]

8. Orang yang bertahajjud hendaknya membaca satu juz Alquran atau lebih, atau paling sedikit yang paling mudah dia baca dan dia pahami.

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam, lalu beliau shalat empat rakaat. Beliau membaca surat Al_Baqarah, Ali Imran, An_Nisa’, Al_Maidah, dan Al_An’am. [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Ash_Shalah, hadits no. 774]

9. Dibolehkan shalat sunnah tahajjud berjama’ah sesekali pada waktu malam

Hal ini berdasarkan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah melakukan shalat sunnah dengan sendirian dan berjama’ah. Namun kebanyakan shalat sunnah itu beliau lakukan dengan sendirian. Beliau pernah shalat berjama’ah dengan Hudzaifah; dengan Ibnu Abbas; dengan Anas, ibunya dan seorang anak yatim; dengan Ibnu Mas’ud; dengan Auf bin Malik. Beliau juga pernah shalat sunnah berjama’ah dengan Anas dan ibunya; dengan Ummu Haram, yaitu bibi dari Anas; dengan Utbah bin Malik dan Abu Bakrah; dan dengan para ibu sahabat_sahabat beliau di rumah Utsman. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjadikan itu sebagai kebiasaan yang rutin. Hanya saja, bila itu dilakukan sesekali, maka hukumnya tidak mengapa. Kecuali shalat sunnah tarawih, karena jama’ah dalam shalat sunnah tarawih adalah sunnah secara terus_menerus. [Lihat Ibnu Taimiyah, Al_Ikhtiyarat Al_Fiqhiyyah, hal. 98]

10. Hendaknya menutup shalat sunnah tahajjud dengan witir

Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan bahwa beliau bersabda, “Barang siapa yang melakukan shalat malam, hendaknya ia jadikan witir sebagai akhir shalatnya sebelum shubuh, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan demikian.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh  Al_ Bukhari dan  Muslim]

11. Hendaknya mengharap pahala dari tidur dan shalat.

Suatu hari Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa Al_Asy’ari radhiyallahu ‘anhuma terlibat satu diskusi tentang amal shalih. Mu’adz berkata, “Wahai Abu Abdillah! Bagaimana engkau membaca Alquran?” Abu Musa menjawab, “Aku berusaha melakukan semaksimal  mungkin. Engkau sendiri bagaimana membaca Alquran wahai Mu’adz?” Mu’adz menjawab, “Aku tidur di awal malam, lalu aku bangun setelah menyelesaikan istirahat tidurku. Aku membaca Alquran sebatas yang Allah kuasakan bagi diriku. Sehingga aku mengharapkan pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharapkan pahala dari shalatku.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Al_Bukhari dan Muslim]

12. Memperpanjang berdiri dengan memperbanyak ruku’ dan sujud

Berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat yang paling baik adalah yang panjang qunutnya.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Mulsim dalam kitab Shalatul Musafirin, hadits no. 756]

Kiat_Kiat Mudah Untuk Melaksanakan Shalat Sunnah Tahajjud

  1. Mengenal keutamaan shalat sunnah tahajjud dan kedudukan pelakunya di sisi Allah Ta’ala, serta kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat bahwa mereka akan masuk surga.
  2. Mengenal tipu daya setan dan godaan setan untuk melakukan shalat sunnah tahajjud dan agar manusia meninggalkannya, serta mewanti_wanti orang yang meninggalkan shalat sunnah tahajjud meski sedikit.
  3. Memperpendek angan_angan dan mengingat mati
  4. Menggunakan masa sehat dan masa luang.
  5. Bertekad untuk tidur sedini mungkin, agar bertambah semangat dan  bertambah kekuatan untuk shalat sunnah tahajjud dan shalat shubuh.
  6. Bertekad untuk memelihara adab_adab tidur.
  7. Memperhatikan berbagai hal yang membantu bangun malam untuk shalat sunnah tahajjud.

Demikianlah pembahasan seputar shalat tahajjud kali ini. Saya memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan nama-nama_Nya yang agung dan sifat-sifat_Nya yang mulia agar menjadikan amalan saya yang sedikit ini menjadi amalan yang berkah dan ikhlash semata-mata karena mengharapkan wajah_Nya yang mulia, serta menjadikan sarana pendekat kepada surga_Nya bagi penulis, penerbit, pembaca, dan orang-orang yang berpartisipasi dalam menyebarkan tulisan ini.

Saya juga memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar tulisan ini bermanfaat bagi saya dan semua orang yang membutuhkannya. Sesungguhnya Allah-lah sebaik_baik tempat memohon dan semulia_mulia tempat berharap.

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s