Empat Kiat Agar Hati Lebih Hidup

Muhammad bin Hasan bin ’Uqail Musa Al_Syarif dalam kitab Al_’Ibadaat Al_Qalbiyyah wa Atsaruhu fi Hayati Mu’minin mengatakan bahwa di antara kiat-kiat agar kita mendapatkan hati yang hidup (qalbun salim) adalah sebagai berikut:

1. Mengingat Allah

Manfaat dzikir tidak perlu diragukan. Orang yang berdzikir adalah orang yang hatinya tidak rusak dan tidak mati. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ” Permisalan orang yang mengingat Allah dengan orang yang tidak mengingat Allah adalah sebagaimana orang yang hidup dengan orang yang mati.” [Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari]

2. Mengingat Kematian

Orang yang mengingat kematian akan sedikit berangan-angan, giat beramal shaleh, sehingga sedikit dosanya. Al_Imam Al_Hafizh Sa’id bin Jubair Al_Kufi – dibunuh oleh Hajjaj pada tahun 95 H – mengatakan, ” Andai hatiku tidak mengingat kematian, aku khawatir hatiku akan menjadi rusak.” [Lihat Nuzhalah Fudhala’ 1/393-396]

3. Berziarah Kubur

Ziarah kubur merupakan sunnah Nabi yang sudah ditinggalkan dan saat ini dilupakan oleh sebagian besar orang-orang shaleh bahkan umat Islam pada umumnya. Padahal ziarah kubur termasuk sarana yang paling efektif agar hati kita senantiasa hidup dan memiliki hubungan dengan Allah Ta’ala, Dzat yang mengetahui hal-hal yang ghaib. Oleh karena itu, ulama salafush shalih berantusias tinggi untuk melaksanakannya.

Safwan bin Salim – wafat pada tahun 132 H dalam usia 72 tahun – pernah hendak mendatangi Baqi’. Hal ini diketahui oleh seorang yang shaleh, karena itu ia lantas membuntutinya sambil bergumam, ” Aku hendak melihat apa yang ia lakukan.” Safwan lalu duduk di dekat sebuah kubur. Dia terus menangis hingga aku merasa kasihan kepadanya dan aku mengira bahwa kubur tersebut merupakan salah seorang anggota keluarganya. Suatu ketika yang lain, Safwan bin Salim melintas di dekatku. Aku pun lantas membuntutinya lagi. Dia lalu duduk di dekat kuburan yang lain. Di kuburan itupun beliau menangis sebagaimana terdahulu.

Hal ini diceritakan kepada Muhammad Al_Munkadir – lahir 30-an H dan wafat 130 H – ” Aku kira kubur itu merupakan kubur salah satu sanak keluarganya, komentarku.” Kata Ibnu Al_Mundakir, ” Semua penghuni kubur itu merupakan keluarga dan saudara-saudaranya, karena beliau adalah orang yang tersentuh hatinya karena mengingat orang-orang yang telah meninggal.” Hal ini beliau lakukan setiap kali hatinya hendak mengeras. [Lihat Nuzhalah Fudhala’ 1/395-397]

4. Mengunjungi Orang_Orang yang Shaleh dan Mengetahui Amal yang Mereka Kerjakan

Hal ini merupakan suatu hal yang sangat bermanfaat. Jika tidak memungkinkan untuk dilakukan, maka dengan mengunjungi orang-orang shaleh dan meminta izin kepada mereka melalui buku-buku yang menceritakan perjalanan hidup mereka, karena itu juga merupakan suatu hal yang sangat bermanfaat.

Ja’far bin Sulaiman mengatakan bahwa setiap kali hatiku mulai mengeras, aku pergi pagi-pagi untuk menatap wajah Muhammad bin Wasi’ – Abu Bakar Al_Azdi Al_Bashri, salah seorang tokoh tabi’in dan wafat 123 H –. Wajah Muhammad bin Wasi’ seperti orang yang baru saja ditinggal mati oleh sanak keluarganya. [Lihat Nuzhalah Fudhala’ 1/526]

Saudaraku, salah satu kewajiban kita adalah selalu menjaga hati, jangan sampai terasuki was-was setan dan berbagai panyakit hati seperti riya’ dan syirik.

Agar hati kita lebih tersentuh lagi untuk senantiasa menjaga hati kita, simaklah perkataan Abu Hafs An_Nasaiburi mengatakan sebagai berikut, ” Aku jaga hatiku selama 20 tahun, akibatnya aku dijaga oleh hatiku selama 20 tahun.”

Subhanallah, dengan membaca dan memahami ucapan Abu Hafs An_Nasaiburi di atas, maka hati kita akan terkesimak bahwa ketika kita senantiasa menjaga hati dan menghidupkan hati kita, maka hati kita yang akan senantiasa menjaga kita siang dan malam dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasul_Nya, dan senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah dengan keikhlasan.

Selain melakukan hal-hal yang dapat menghidupkan hati kita, seperti yang telah disebutkan di atas. Sangat perlu sekali bagi kita juga untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak hati, karena hati itu bisa rusak sebagaimana badan bisa rusak.

Adupun pembahasan tentang hal-hal yang dapat merusak hati – insya Allah – akan penulis bahas dalam tulisan berikutnya dengan judul, ” Lima Perusak Hati.”

Akhir dari tulisan ini, marilah wahai jiwa yang mengaku cinta kepada Allah dan Rasul_Nya. Renungkanlah sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berikut ini, ” Ingatlah dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama hati (qalbun).” [Hadist shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim]

Semoga tulisan yang sangat sederhana ini bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala. Aamiin .. !!

Penulis,
Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I
Palembang – Sumatera Selatan
2 Muaharram 1429 H / 11 Januari 2008 M

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s