Gambaran Masyarakat Arab Jahiliyah: Kondisi Sosial

Assalamu’alikum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh

SMP Negeri 10 Lahat - Kegiatan MABIT Kelas 9

SMP Negeri 10 Lahat – Kegiatan MABIT Kelas 9

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

2.  Kondisi Sosial

Di kalangan Bangsa Arab terdapat beberapa kelas masyarakat, yang kondisinya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Hubungan seseorang dengan keluarga di kalangan Bangsawan sangat diunggulkan dan diprioritaskan, dihormati dan dijaga sekalipun harus dengan pedang yang terhunus dan darah yang tertum-pah. Jika seseorang ingin dipuji dan menjadi terpandang di mata Bangsa Arab karena kemuliaan dan keberaniannya, maka ia harus banyak dibicarakan di kalangan kaum wanita. Jika seorang wanita menghendaki, maka ia bisa meng-umpulkan beberapa kabilah untuk suatu perdamaian, dan jika mau ia juga bisa menyalakan api perperangan dan pertempuran di antara mereka. Sekalipun begitu, seorang laki_laki tetap dianggap sebagai pemimpin di tengah keluarga, yang tidak boleh dibantah dan setiap perkataannya harus dituruti. Hubungan laki_laki dan wanita harus melalui persetujuan wali wanita, sehingga wanita tidak bisa menentukan pilihannya sendiri.

Begitulah gambaran secara ringkas tentang kelas masyarakat Bangsawan. Sedangkan kelas masyarakat lainnya beraneka ragam dan mempunyai kebe-basan hubungan antara laki_laki dan wanita. Penulis tidak bisa menggambarkan-nya secara detail kecuali dengan ungkapan_ungkapan yang keji, buruk, dan menjijikkan. Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa pernikahan pada masa Jahiliyah ada empat macam sebagai berikut :

  1. Pernikahan secara spontan, yaitu seseorang laki_laki mengajukan lamaran kepada laki_laki lain yang menjadi wali wanita, lalu ia bisa menikahinya setelah menyerahkan mas kawin seketika itu pula.
  2. Seseorang laki_laki bisa berkata kepada istrinya yang baru suci dari haid, “Temuilah Fulan dan berkumpullah bersamanya!” Suaminya tidak mengum-pulinya dan sama sekali tidak menyentuhnya, hingga ada kejelasan bahwa istrinya hamil dari orang yang disuruh mengumpulinya. Jika sudah jelas kehamilannya, maka suami bisa mengambil kembali istrinya jika memang ia menghendaki hal itu. Yang demikian ini dilakukan, karena ia menghendaki kelahiran seorang anak yang baik dan pintar. Pernikahan semacam ini di-sebut nikah istibdha’.
  3. Pernikahan poliandri, yaitu pernikahan  beberapa orang laki_laki yang jum-lahnya tidak mencapai sepuluh, yang semuanya mengumpuli seorang wanita. Setelah wanita itu hamil dan melahirkan bayinya, maka selang beberapa hari kemudian ia mengundang semua laki_laki yang berkumpul deng-annya, dan mereka tidak bisa menolaknya hingga berkumpul di hadapannya. Lalu ia berkata, “Kalian sudah mengetahui apa yang sudah terjadi dan kini aku telah melahirkan. Bayi ini adalah anakmu hai Fulan.” Wanita tersebut bisa menunjuk siapa pun yang ia suka di antara mereka seraya menyebut-kan namanya, lau laki_laki itu bisa mengambil bayi tersebut.
  4. Sekian banyak laki_laki bisa mendatangi wanita yang dikehendakinya, yang disebut wanita pelacur. Biasanya mereka memasang bendera khusus di depan pintunya sebagai tanda bagi laki_laki yang ingin mengumpulinya. Jika wanita pelacur ini hamil dan melahirkan anak, maka ia bisa mengundang semua laki_laki yang pernah mengumpulinya. Setelah semuanya berkumpul, lalu diselenggarakan undian. Siapa yang mendapat undian, maka ia bisa mengambil anak itu dan mengakuinya sebagai anaknya dan ia tidak bisa menolaknya. [Lihat Abu Dawud, Kitabun Nikah, bab Wujuhun Nikah Al_Lati Kana Yatnakahu Biha Ahlul Jahiliyah ]

Setelah Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke muka bumi, maka semua bentuk pernikahan_pernikahan di atas dihapus dan digantikan dengan pernikahan yang sesuai dengan syari’at Islam.

Di antara kebiasaanya yang sudah dikenal akrab pada masa jahiliyah adalah poligami, tanpa ada batas maksimal, berapa pun banyaknya istri yang dikehen-daki. Bahkan mereka bisa menikahi dua wanita yang bersaudara. Mereka juga bisa menikahi janda bapaknya, baik karena dicerai atau karena ditinggal mati. Hak perceraian ada di tangan kaum laki_laki, tanpa ada batasnya. Hal ini telah dijelaskan Allah Ta’ala dalam Alquran surat An_Nisa’ ayat 22-23 :

Dan janganlah kamu kawini wanita_wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk_buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu_ibumu; anak_anakmu yang perempuan; saudara_ saudaramu yang perempuan, Saudara_saudara bapakmu yang perempuan; Saudara_saudara ibumu yang perempuan; anak_anak perempuan dari saudara-_ saudaramu yang laki-_aki; anak_anak perempuan dari saudara_saudaramu yang perempuan; ibu_ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu_ibu isterimu (mertua); anak_anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpun-kan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. An_Nisa’ (4): 22-23]

Perzinaan mewarnai setiap lapisan masyarakat, tidak hanya terjadi di lapisan tertentu atau golongan tertentu, kecuali hanya sebagian kecil dari kaum laki_laki dan wanita yang memang masih memiliki keagungan jiwa. Mereka tidak mau menerjunkan diri ke dalam lembah kehinaan ini. Menurut persepsi umum semasa Jahiliyah bahwa pernikahan ini tidak dianggap aib yang mengotori keturunan. Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, dia berkata, “Ada seorang laki_laki berdiri seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Fulan adalah anakku, karena aku pernah persetubuh dengan seorang budak perempuan pada masa Jahiliyah. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada seruan seperti itu dalam Islam. Urusan Jahiliyah sudah punah.”  [Lihat Abu Dawud, Kitabun Nikah, bab Naskhul Muraja-’ah Ba’dat Tathliqat Ats_Tsalats.]

Ada pula di antara mereka yang mengubur hidup_hidup anak perempuannya, karena takut aib dan karena kemunafikan mereka, atau membunuh anak laki-laki mereka karena takut miskin dan lapar. Allah Ta’ala berfirman :

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak_anak kamu Karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan_perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). [QS. Al_An’am (6): 151]

Masalah ini juga di jelaskan Allah Ta’ala dalam Alquran surat An_Nahl ayat 58-59; surat Al_Isra’ ayat 31; dan surat At_Takwir ayat 8 :

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perem-puan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyem-bunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampai-kan kepadanya. apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. [QS. An_Nahl (16): 58-59]

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu Karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. [QS. Al_Isra’ (17): 31]

Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. [QS. At-Takwir (81): 8]

Walaupun demikian, hal ini tidak dianggap saebagai kebiasaan yang memasyara-kat, karena bagaimana pun juga mereka masih membutuhkan anak laki_laki untuk membentengi diri dan serangan musuh.

Dengan demikian, secara garis besarnya kondisi sosial masyarakat Jahiliyah bisa dikatakan lemah dan buta, kebodohan mewarnai segala aspek kehidupan, khurafat tidak bisa dilepaskan, manusia hidup layaknya binatang, wanita diperjual_belikan dan kadang_kadang diperlakukan layaknya benda mati. Hubungan di tengah umat sangat rapuh dan gudang_gudang pemegang kekuasaan dipenuhi kekayaan yang berasal dari rakyat, dan sesekali rakyat diperlukan hanya untuk menghadang serangan musuh.

Bersambung ….

Silakan Lihat Tulisan Lainnya Di Bawah ini :

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s