Khuthbah ‘Idul Fitri

Khuthbah ‘idul fitri ini saya buat dan postingkan di sini, atas permintaan saudara/kanda/teman/kepala sekolah/inspirator/ motivator, dll – Bukroni, M.Pd.I – mudah-mudahan bermanfaat

(Note: Isi khuthbah silakan diedit ulang dan disesuaikan dengan kondisi tempat anda menyampaikan khuthbah ‘idul fitri)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Melalui momentum yang berharga ini, marilah kita menjadikan hari raya ‘Idul Fitri sebagai langkah awal untuk senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Ta’ala. Dengan cara mengerjakan segala perintah_ Nya, sesuai dengan tata cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menjauhi segala larangan_Nya. Di samping itu, marilah kita bersyukur kepada Allah Ta’ala atas semua rahmat, nikmat, dan taufiq serta hidayah_Nya yang telah diberikan kepada kita, sehingga kita bisa menyempatkan diri untuk mengerjakan salah satu perintah dan sunnah Rasul_Nya, yaitu shalat ‘Idul Fitri sebagaimana yang telah kita lakukan bersama di pagi hari ini. Semoga apa yang telah kita lakukan diridhai dan mendapat ganjaran yang sesuai di sisi Allah Ta’ala. Aamiin ya rabbal ‘aalamiin

Kemudian, marilah kita haturkan shalawat dan salam atas junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga serta sahabat_sahabat beliau. Dan mudah_mudahan terlimpahkan juga kepada mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, khususnya kepada kita dan para pemimpin kita serta kaum muslimin dan muslimat seluruhnya di mana saja mereka berada sampai datang hari Kiamat. Aamiin ya rabbal ‘aalamiin

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkanlah kami untuk menyampaikan perkara_perkara yang penting tentang nasihat_nasihat agama sebelum dan sesudah hari raya ‘Idul Fitri. Adapun yang akan kami sampaikan pada khuthbah hari raya ‘Idul Fitri kali ini adalah nasihat sebelum hari raya ‘Idul Fitri; ketika perayaan hari raya ‘Idul Fitri; dan nasihat sesudah hari raya ‘Idul Fitri.

Pertama: Nasihat sebelum ‘Idul Fitri

Wahai kaum musimin – semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq kepadaku dan kepada kita semua – bulan suci Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita semua. Ramadhan adalah bulan yang Allah Ta’ala muliakan tidak seperti bulan_bulan lainnya. Ramadhan adalah syahrul mubaarak (bulan yang penuh barakah), karena pada bulan ini banyak keutamaan yang Allah Ta’ala berikan kepada siapa yang mau beribadah kepada_Nya. Di antara keutamaannya yang sudah sangat masyhur adalah dilipatgandakan pahala, ditutupnya pintu neraka Jahannam, dan dibukanya pintu syurga, serta keutamaan lainnya.

Wahai kaum muslimin dan muslimat! Berbahagialah wahai orang_orang yang berpuasa pada bulan suci Ramadhan. Hari ini Allah Ta’ala telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar bagi orang_orang yang berpuasa. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al_Ahzab ayat 35 sebagai berikut :

Artinya:

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. [QS. Al_Ahzab (33); 35]

Kemudian berbahagialah wahai orang_orang yang berpuasa! Hari ini, puasa yang kita lakukan akan menjadi perisai (pelindung) dirinya dari api Neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Ash_shiyaamu junnatun yastajinnu bihal ‘abdu minan naar. “

Artinya:

Puasa adalah perisai. Denganya seorang hamba melindungi dirinya dari api Neraka. [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad dari Jabir]

Kemudian berbahagialah juga kaum muslimin! Sebagaimana yang kita ketahui bahwa puasa itu dapat menjauhkan pelakunya dari api Neraka, maka berarti puasa juga dapat mendekatkannya ke Surga. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anu, dia bercerita, aku pernah berkata: “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dengannya aku bisa masuk Surga. Maka beliau menjawab: Hendaklah kamu berpuasa, tidak ada tandingan baginya.” [Hadits shahih, diriwa yatkan oleh An_Nasa’i, Al_Hakim, dan Ibnu Hibban dalam kitab Mawaarid]

Kemudian bergembiralah wahai orang_orang yang berpuasa! Allah Ta’ala telah menyediakan Surga Ar_Rayyan bagi orang_orang yang berpauasa. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“ Inna fil jannati baaban yuqaalu lahu: Ar_Rayyan. ”

Artinya:

Sesungguhnya di Surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama Ar_Rayyan. Dari pintu itu orang_orang yang berpuaasa akan masuk pada hari Kiamat… [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Al_Bukhary dan Muslim]

Kemudian bergembiralah juga wahai orang_orang yang berpuasa! Sesungguhnya puasa yang kita kerjakan pada bulan Ramadhan akan memberikan syafa’at (pertolongan) bagi orang yang mengerjakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ Ash_Shiyaamu wal qur’aanu yasyfa’aani lil’abdi yawmal qiyaamah, yaquuwlush shiyaamu: Ay rabbi mana’tuhuth th’aama wasy syaHwatu, fasyaffi’niy fiyhi… qaala: fayusyaffa’aan.”

Artinya:

Puasa dan Alquran akan memberi syafa’at kepada hamba pada hari Kiamat. Puasa akan berkata: “Wahai rabbaku, aku telah menahannya dari makanan dan syahwat, maka perkenankanlah aku untuk memberi syafa’at kepadanya… Beliau bersabda: Maka keduanya pun diperkenankan memberi syafa’at.” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ahmad, Al_Hakim, dan Abu Nu’aim]

Wahai kaum muslimin dan muslimat! Inilah keberkahan_keberkahan yang Allah  Ta’ala dan Rasul_Nya telah janjikan kepada orang_orang yang berpuasa. Sungguh keberuntungan yang besar bagi orang_orang yang mendapatkan keberkahan_keberkahan tersebut. Sebaliknya, kerugian yang nyata dan bencana yang besar bagi orang_orang yang terhalang mendapatkan keberkahan_ keberkahan tersebut. Kita berdoa kepada Allah Ta’ala, mudah_mudahan kita semua yang hadir pada saat ini maupun orang_orang yang belum sempat hadir saat ini digolongkan Allah ke dalam golongan orang_orang yang beruntung. Aamiin ya rabbal ‘aalamiin

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Kedua: Nasihat agama tentang perayaan hari raya ‘Idul Fitri

Ketahuilah wahai saudara_saudaraku sesama muslim – semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepadamu – sesungguhnya kebahagiaan yang ada pada hari raya kadang_kadang membuat manusia lupa atau sengaja melupakan perkara_perkara agama mereka dan hukum_hukum yang ada dalam Islam. Se-hingga kita melihat banyak orang yang berbuat kemaksiatan dan kemungkaran_ kemungkaran dalam keadaan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik_baiknya !! Sebenarnya kemaksiatan dan kemunkaran yang akan kami sebutkan yang sering terjadi pada hari raya ‘Idul Fitri adalah secara umum dilakukan pada waktu hari raya ataupun di luar hari raya, akan tetapi kemungkaran itu lebih besar dan bertambah dasyat, karena dilakukan pada hari raya ‘Idul; Fitri. Semua inilah yang mendorong kami untuk menambahkan pembahasan yang bermanfaat ini dalam khuthbah ‘idul Fitri tahun ini, agar menjadi peringatan bagi kaum muslimin dari perkara yang mereka lupakan dan mengingatkan mereka atas apa yang mereka telah lalai darinya.

Adapun di antara kemaksiatan dan kemungkaran itu adalah :

01 : Berhias Dengan Mencukur Jenggot.

Perkara ini banyak dilakukan manusia. Padahal mencukur jenggot merupakan perbuatan yang diharamkan dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana ditunjukkan dalam hadits_hadits yang shahih yang berisi perintah untuk memanjangkan jenggot agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang_orang kafir yang kita diperintah untuk menyelisihi mereka. Selain berkaitan dengan hal itu, memanjangkan jenggot termasuk fithrah (bagi laki-laki) yang tidak boleh kita rubah. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Artinya: Selisihilah orang_orang musyrik, yaitu lebatkanlah jenggot dan pangkaslah kumis.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Al_Bukhary dan Muslim]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Pangkaslah kumis dan panjangkanlah jenggot! Selisihilah orang_orang Majusi.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim]

02 : Berjabat Tangan Dengan Wanita Yang Bukan Mahram.

Ini merupakan bencana yang banyak menimpa kaum muslimin, tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang dirahmati Allah. Perbuatan ini haram berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Seseorang ditusukkan jarum besi pada kepalanya adalah lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim]

03 : Tasyabbuh (Meniru) Orang-Orang Kafir Dan Orang-Orang Barat Dalam Berpakaian dan Mendengarkan Alat_Alat Musik serta Perbuatan Mungkar Lainnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” [Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dari Ibnu Umar dan isnadnya Hasan]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.

“Artinya : Benar-benar akan ada pada umatku beberapa kaum yang mereka menghalalkan zina, sutera (bagi laki-laki ,-pent), khamr dan alat-alat musik. Dan benar-benar akan turun beberapa kaum menuju kaki gunung untuk melepaskan gembalaan mereka sambil beristirahat, kemudian mereka didatangi seorang fasik untuk suatu keperluan. Kemudian mereka berkata : ‘Kembalilah kepada kami besok!’ Lalu Allah membinasakan dan menimpakan gunung itu pada mereka dan sebagian mereka dirubah oleh Allah menjadi kera-kera dan babi-babi hingg hari kiamat” [Hadits Riwayat Bukhari 5590 secara muallaq dan bersambung menurut Abu Daud 4039, Al_Baihaqi 10/221 dan selainnya.]

04 : Wanita_wanita yang bertabarruj (berdandan memamerkan kecantikan) kemudian keluar ke pasar_pasar atau tempat lainnya.

Ini merupakan perbuatan yang diharamkan dalam syari’at Allah. Allah Ta’ala

berfirman :

“Artinya : Hendaklah mereka (wanita-wanita) tinggal di rumah-rumah mereka dan jangan bertabarruj ala jahiliyah dulu dan hendaklah mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat.” [QS. Al_Ahzab (33): 33]


Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Dua golongan manusia termasuk penduduk neraka yang belum pernah aku melihatnya : …….. dan wanita_wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak_lenggok, kepala_kepala mereka bagaikan punuk_punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan bau Surga. Padahal bau Surga dapat tercium dari perjalanan sekian dan sekian.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah]

05 : Boros dalam membelanjakan harta yang tidak ada manfaatnya dan tidak ada kebaikan padanya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

“Artinya : Janganlah kalian berlebih_lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [QS. Al_An’am (6): 141]

“Artinya : Dan janganlah kamu menghambur_-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang_orang yang berbuat boros itu adalah saudaranya syaitan.” [QS. Al_Isra : 26-27]


Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tidak akan berpindah kedua kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb_nya hingga ditanya tentang … dan hartanya dari mana ia perolah dan ke mana ia infakkan.” [Hadits hasan, diriwayatkan At_Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud]

06 : Kebanyakan manusia meninggalkan shalat berjama’ah di masjid tanpa alasan syar’i atau mengerjakan shalat ied tetapi tidak shalat lima waktu. Demi Allah, sesungguhnya ini adalah salah satu bencana yang amat besar yang menimpa manusia ketika hari raya ‘Idul Fitri.


07 : Tidak adanya kasih sayang terhadap fakir miskin.

Sehingga anak_anak orang kaya memperlihatkan kebahagiaan dan kegembiraan dengan bebagai jenis makanan yang mereka pamerkan di hadapan orang-orang fakir dan anak-anak mereka tanpa perasaan kasihan atau keinginan untuk membantu dan merasa bertanggung jawab. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Al_Bukhary dan Muslim]

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Ketiga: Nasehat setelah Hari Raya ‘Idul Fitri

Wahai kaum muslimin dan muslimat! Melalui kesempatan yang berbahagia ini, kami mengajak kita semua untuk senantiasa beristiqamah dalam menjalankan ibadah_ibadah yang telah kita lakukan selama bulan suci Ramadhan, baik ibadah lahir maupun ibadah bathin, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah, dan baik ibadah ritual maupun ibadah sosial, karena sesungguhnya bukti seseorang yang berhasil meraih keberkahan_keberkahan bulan suci Ramadhan adalah mereka yang tetap mengerjakan ibadah_ibadah yang biasa mereka kerjakan pada bulan suci Ramadhan.

Adapun salah satu ibadah yang sedang menanti di depan mata kita setelah hari raya ‘Idul Fitri adalah puasa enam hari pada bulan Syawwal.

Disunnahkan mengiringi puasa Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal dan itu sebanding dengan puasa selama satu tahun. Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al_Anshary radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Man shooma ramadhoona, tsumma atba’ahu sittaa min syawwaal kaana kashiyaamid daHri.”

Artinya:

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian ia mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti puasa selama setahun. [Hadits shahih, karena ada beberapa syawahidnya (hadits_hadits pendukungnya) dan dikeluarkan oleh Imam Muslim, dan lain_lain]

Dalam hadits lain juga, dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa puasa di bulan Ramadhan, maka puasa sebulan itu sama dengan sepuluh bulan. Dan dengan puasa enam hari setelah berbuka, maka itu melengkapi puasa setahun.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh An_Nasa’i, dalam kitan As_Sunan Al_Kubra, dll]

Imam An_Nawawi berkata dalam kitab Syarah Muslimin, “Para ulama mengatakan bahwa itu sebanding dengan puasa setahun, karena satu kebaikan balasannya sepuluh kali lipat dan puasa sebulan Ramadhan sama dengan puasa sepuluh bulan, sedangkan puasa 6 hari di bulan Syawwal sama dengan 2 bulan.”

Apakah syarat puasa enam hari di bulan Syawal harus dilakukan secara berurut?

Jawabannya:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Syarah Al_’Umdah mengatakan bahwa tidak disyariatkan dilakukan secara berurutan, sehingga boleh saja dikerjakan langsung setelah hari berbuka (hari raya ‘Idul Fitri), atau terpisah antara keduanya, atau dilakukan berurutan, atau secara acak, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan Syawwal semuanya waktu untuk berpuasa tanpa mengkhususkan sebagian dari sebagian yang lain.

Kemudian: Bolehkah mendahulukan puasa enam hari di bulan Syawwal dari mengqadha puasa Ramadhan?

Jawabannya:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al_Utsaimin dalam kitab Syarah Al_Mumti’ mengatakan bahwa barangsiapa melakukan puasa enam hari di bulan Syawwal sebelum mengqadha puasa Ramadhan yang tertinggal, maka dia tidak mendapatkan keutamaannya sebagaimana yang telah dikhabarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sama dengan puasa setahun. Hal ini dikarenakan dalam hadits Tsauban di atas bahwa satu bulan sama dengan sepuluh bulan dan puasa enam hari setelah berbuka (hari raya ‘Idul Fitri) melengkapi menjadi setahun. Sedangkan orang yang masih hutang puasa Ramadhan belum menyempurnakan puasa sebulan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al_Utsaimin juga berkata bahwa puasa enam hari di bulan Syawwal tidak boleh didahulukan dari mengqadha (mengganti) puasa Ramadhan. Jika ini terjadi, maka puasa enam hari di bulan Syawwal tersebut menjadi puasa sunnah mutlak dan pelakunya tidak memperoleh pahala seperti yang dijelaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya,

“Man shooma ramadhoona, tsumma atba’ahu sittaa min syawwaal kaana kashiyaamid daHri.”

Artinya:

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian ia mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti puasa selama setahun. [Hadits shahih, karena ada beberapa syawahidnya (hadits_hadits pendukungnya) dan dikeluarkan oleh Imam Muslim, dan lain_lain]

Wallahu ‘allam bish shawab

Mudah_mudahan khuthbah ‘Idul Fitri kali ini dalam melembutkan hati kita yang keras membatu, melapangkan hati kita yang sempit, menerangi hati kita yang gelap gulita, dan melapangkan hati kita yang semping. Sehingga Allah Ta’ala memudahkan kita mendapatkan hidayah_Nya. Aamiin ya rabbal ‘alamiin!

11 Comments

  1. “Taqabbalallahu minnaa wa minkum. Taqabbalallahu yaa kariim”

    triiz a.k.a Catatan SederhaNa mengucapkan

    Selamat Idul Fitri 1431H, Mohon Maaf Lahir Batin

    maaf jika selama perjalanan blog ini goresan Catatan SederhaNa pernah melukai hati para sahabat sekalian

  2. Untuk salah yg pernah Ada , khilaf yg sempat terucap, copy paste tanpa ijin dari blog sobat , Pintu maaf selalu kuharap,
    Selamat Idul Fitri .. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Shiyamana Wa Shiyamakum.
    Mohon maaf lahir dan batin .

  3. Buat semua sobat, saya mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Shiyamana Wa Shiyamakum. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H, Mohon maaf lahir dan batin.🙂

    Khusus buat k’Bukroni, syukron atas doanya, and sekarang lagi di Lahat, insyaAllah minggu depan ke palembang.ws

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s