Metode Sistem Regu (Team Teaching)


Writed by:  Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I
11.  Metode Sistem Regu [Team Teaching]

Sistem regu adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dimana dua orang atau lebih bekerja sama untuk mengajar suatu kelompok (group) siswa/kelas tertentu

Kadang-kadang ada unit pelajaran yang tidak dapat disampaikan oleh seorang guru secara keseluruhan. Akan tetapi justru memerlukan bantuan dan kerja sama dari pihak guru lain. Misalnya ; pada pendidikan agama mengenai pelajaran fiqh. Hal mana kemungkinan seseorang guru tidak dapat menguasai bagian-bagian fiqh yang mencakup : Fiqh munakahat, fiqh jinayat, fiqh mu’amalat, termasuk fiqh mawaris dan lain-lain sebagainya, yang tercakup dalam materi ilmu fiqh. Maka cara yang ditempuh adalah dengan jalan/cara sistem beregu. Artinya dua orang guru atau lebih bekerja sama untuk mengajarkan unit-unit materi pelajaran yang terkandung dalam pelajaran fiqh tersebut.

Atau misal lain satu tim sejarah, masing-masing menyajikan sejarah Umum, sejarah Islam, sejarah Indonesia, sejarah pendidikan dan lain-lain. Semua guru tersebut bekerja sama dan saling berkomunikasi mengenai pelajaran sejarah untuk diajarkan

Sesuai dengan sifatnya metode sistem regu (team teaching) dilaksanakan dengan tujuan membantu siswa agar lebih lancar dalam proses belajarnya, dan meningkatkan kerja sama antar guru dalam memikirkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu

Dalam Islam sangat dianjurkan setiap muslim, untuk saling memberi dan saling nasihat-menasehati dalam menuju arah kebaikan dan kebenaran. Sebagaimana tercermin dalam firman Allah yang berbunyi :

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasehati supaya menetapi kesabaran (Al ‘Ashr : 3).

Sistem regu (Team : teaching) tepat digunakan apabila :

  1. Jumlah siswa terlalu besar, sehingga pembagian tugas belajar kurang merata dan penangkapan siswa kurang sempurna
  2. Pelajaran yang disampaikan mencakup unit yang luas, sehingga hanya dimungkinkan melalui metode sistem regu pengajaran dapat berjalan secara efektif
  3. Pelajaran yang diberikan dimaksudkan agar pengertian dan pemahaman siswa lebih luas dan mendalam
  4. Kerja sama dan komunikasi antar regu bidang studi tersebut dapat memungkinkan terlaksana
  5. Fasilitas dan sarana untuk itu cukup tersedia

Kelebihan metode sistem regu

  1. Melalui metode sistem regu (team teaching) ini banyak menguntungkan, karena interaksi mengajar akan lebih lancar
  2. Penguasaan dan pemahaman siswa terhadap pelajaran yang diberikan dapat mendalam. Karena masing-masing guru bidang studi dapat memberikan / kajian yang berbeda-beda sesuai dengan spesialisasi mereka masing-masing
  3. Unsur kerja sama antar siswa dan guru masing-masing bidang studi sangat menonjol, sehingga dimungkinkan adanya kerja sama yang harmonis, yang justru sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar
  4. Tugas mengajar guru sedikit lebih ringan, sehingga cukup waktu untuk merencanakan persiapan mengajar yang lebih baik
  5. Pelajaran yang diberikan oleh guru, melalui metode sistem regu ini dipertanggungjawabkan, karena unit pelajaran ditangani oleh beberapa orang guru

Kekurangan metode sistem regu terletak pada :

  1. Pelajaran menjadi tidak sistematis, apabila masing-masing berjalan sendiri-sendiri, dan tidak adanya koordinasi yang baik. Hal ini dapat berakibat membingungkan dan menyulitkan bagi siswa
  2. Bagi guru yang kurang disiplin, bila mendapatkan giliran bebas tugas, kemungkinan waktu tersebut hanya digunakan untuk beristirahat daripada membuat rencna pelajaran yang baik
  3. Kemungkinan bagi pementukan (team teaching) hanya sekedar memperbincangkan faktor ekonomis dan administrasi pengajaran yang justru hal yang pokok
  4. Apabila tidak tercipta hubungan yang harmonis dan kerja sama yang kompak antar guru bidang studi, maka kemungkinan akan berakibat fatal bagi tercapainya tujuan pengajaran
  5. Kecenderungan sistem pengajaran modern menghendaki adanya pemisahan yang tugas spesialisasi dari masing-masing mata pelajaran

Saran-saran pelaksanaan metode sistem regu :

  1. Komunikasi dan koordinasi antar regu bidang studi harus terbina dengan baik. Sebab hal ini merupakan kunci utama keberhasilan metode sistem regu
  2. Pembagian tugas diusahakan sedemikian rupa dan tidak terjadi tumpang tindih dari masing-masing guru bidang studi
  3. Dalam pelaksanaannya perlu mempertimbangkan segi sarana dan fasilitas yang tersedia

Metode sistem regu (team teaching) selain dapat diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan formal, juga dapat dietrapkan di lembaga-lembaga non formal. Misalnnya pada lembaga pendidikan pondok pesantren, pengajian-pengajian, kursus-kursus dan lain sebagainya.

Metode Pemberian Tugas (Resitasi)


Writed by:  Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I

Sumber :  https://alhafizh84.wordpress.com/2010/01/17/metode-pemberian-tugas-resitasi/

10.  Metode Pemberian Tugas (Resitasi)

Pemberian  tugas atau resitasi; berasal dari bahasa Inggris to cite yang artinya mengutip (re=kembali), yaitu siswa mengutip ataumengambil sendiri bagian-bagian pelajaran itu dari buku-buku tertentu, lalu belajar sendiri dan berlatih hingga sampai siap sebagaimana mestinya. Metode ini populer dengan bentuk PR (Pekerjaan Rumah). Sebetulnya bukan hanya itu/bukan hanya di rumah

Dengan kata lain metode resitasi dimaksudkan; yaitu guru menyajikan bahan pelajaran dengan cara memberikan tugas kepada siswa, untuk dikerjakan dengan penuh rasa tanggung jawab dan kesadaran. Dalam pelaksanaannya metode resitasi bukan saja hanya dilakukan oleh siswa dirumah, akan tetapi pemberian tugas (resitasi) dapat dikerjakan/dilaksanakan di sekolah/halaman sekolah, perpustakaan, laoratorium, di masjid, di langgar/mushalla dan lain tempat. Tergantung jenis tugas yang diberikan. Setiap tugas-tugas murid harus diberi nilai/dikoreksi, dan dicatat perkembangan prestasi murid-murid.

Dalam pendidikan agama, melalui metode pemberian tugas ini dapat diterapkan terutama materi pelajaran yang bersifat praktis. Misalnya memberikan tugas menerjemahkan literatur-literatur yang berbahasa asing (Arab, Inggris), membuat paper, kliping, resume dan lain-lain yang ada hubungannya dengan pelajaran agama.

Langkah-langkah pemberian tugas (resitasi) yang perli diperhatikan :

  1. Merumuskan tujuan secara operasinal/spesifik mengenai target yang akan dicapai
  2. Memperkirakan apakah tujuan yang telah dirumuskan itu dapat dicapai dalam batas-batas waktu, tenaga serta sarana yang tersedia
  3. Dapat mendorong siswa secara aktif dan kreatif untuk mempelajari dan mempraktekan pelajaran yang telah diberikan
  4. Agar siswa mempunyai pengetahuan yang integral/terpadu

Kebaikan metode pemberian tugas (resitasi)

  1. Hasil pelajaran lebih tahan lama dan membekas dalam ingatan siswa
  2. Siswa belajar dan mengembangkan inisiatif dan sikap mandiri
  3. Memberikan kebiasaan untuk disiplin dan giat belajar
  4. Dapat mempraktekkan hasil teori/konsep dalam kehidupan yang nyata/ masyarakat
  5. Dapat memperdalam pengetahuan siswa dalam spesialisasi tertentu

Kekurangan metode pemberian tugas (resitasi) :

  1. Siswa dapat melakukan penipuan terhadap tugas yang diberikan hanya dikerjakan oleh orang lain, atau menjiplak karya orang lain
  2. Bila tugas diberikan terlalu banyak diberikan, siswa dapat mengalami kejenuhan/kesukaran, dan hal ini dapat berakibat ketenangan batin siswa merasa terganggu
  3. Sukar memberikan tugas yang dapat memenuhi sifat perbedaan individuy dan minat dari masing-masing siswa
  4. Pemberian tugas cenderung memakan waktu dan tenaga serta biaya yang cukup berarti

Saran-saran pelaksanaannya :

Oleh karena metode pemberian tugas (resitasi) ini tidak lepas dari kekurangan dan kelemahannya, maka kiranya perlu guru memperhatikan saran-saran pelaksanaannya sebagai berikut :

  1. Merencanakan resitasi secara matang
  2. Tugas yang diberikan hendaklah didasarkan atas minat dan kemampuan anak didik
  3. Tugas yang diberikan berkaitan dengan materi pelajaran yang telah diberikan
  4. Jenis tugas yang diberikan kepada siswa itu hendaknya telah dimengerti betul oleh siswa, agar tugas dapat dilaksanakan secara baik
  5. Jika tugas yang diberikan itu bersifat tugas kelompok maka pembagian tugas (materi tugas) harus diarahkan, termasuk batas waktu penyelesaiannya
  6. Guru dapat membantu penyediaan alat dan sarana yang diperlukan dalam pemberian tuhas
  7. Setiap hasil kerja PR murid-murid harus dikoreksi dengan teliti, diberi nilai dan kertasnya dikembalikan, untukmemberi rangsangan/dorongan
  8. Perkembangan nilai prestasi murid-murid perlu dicatat pada buku catatan nilai guru agar diketahui grafik belajar mereka
  9. Tugas yang diberikan dapat merangsang perhatian siswa dan realistis

Metode Muthla’ah (Membaca)


Writed by:  Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I

Sumber :  https://alhafizh84.wordpress.com/2010/01/17/metode-muthla’ah-membaca/

9. Metode Muthla’ah (Membaca)

Metode muthala’ah, yaitu cara menyajikan pelajaran denagn cara membaca baik membaca dengan bersuara maupun membaca dalam hati.

Melalui metode muthala’ah ini, diharapkan anak didik dapat mengucapkan lafal kata-kata dan kalimat dalam bahasa Arab yang fasih, lancar dan benar. Tidak sembarang membaca, akan tetapi memperhatikan tanda-tanda baca., tebal tipisnya bacaan. Sebab, salah dalam mengucapkan tanda baca, akan berakibat kesalahan arti yang dimaksud.

Tujuan pengajaran muthala’ah

Pengajaran muthala’ah bertujuan untuk :

1) Melatih anak didik terampil membaca huruf Arab dan Al-Qur’an dengan memperhatikan tanda-tanda baca, misalnya tanda baca dhammah (       ), tanda fathah (          ), tanda kasrah (        ), sadddah (       ), dan tanda tanwin (         ), dan lain-lain.

2)      Dapat membedakan bacaan antara huruf satu dengan huruf yang lainnya, dan antara kalimat bahasa Arab yang samar, sehingga fasih lafadznya, lancar membacanya dan benar dalam pemakaiannya, tepat bacaan.

3)      Dapat melagkan dan melantunkan gaya bahasa Arab dan Al-Qur’an secara tepat dan menarik hati

4)      Melatih anak didik untuk dapat membaca dan mengerti serta paham apa yang dibacanya / tidak verbalisme

5)      Agar anak didik dapat membac, membahas dan meneliti buku-buku agama, karya-karya ulama-ulama besar dan pemikir (filsuf-filsuf) Islam yang umumnya karya mereka ini ditulis dalam bahasa Arab. Di Indonesia buku semacam ini dikenal dengan istilah “Kitab Kuning”, atau Kitab Gundul, karena ditulus dalam bahasa Arab yang tidak ada tanda / harakatnya (tanpa tanda baca yang lengkap)

Metode pengajaran muthala’ah

1)      Apresepsi dan Pre Test

Setiap awal pelajaran hendaklah dimulai dengan apresepsi dan pre test. Pre test yaitu menghubungkan pelajaran yang telah diberikan, dengan pelajaran yang akan disajikan, sehingga pengajaran menjadi kontekstual dan relevan

2)      Sebelum guru membaca buku pelajaran yang akan dipelajari, suruhlan akan didik untuk membaca buku bacaannya, jika ada, dan menyimak bacaan gurunya secara baik dan tertib. Setelah selesai membaca adakanlah bersoal jawab dengan anak didik, sehingga mengerti danpaham betul mengenai bacaan tersebut.

3)      Guru menwaarkan kepada murid, untuk mengulangi bacaan yang baru saja dibaca oleh gurnya, kemudian menunjuk di antara yang pandai untuk membaca. Sedangkan yang lain aktif menyimak dan memperhatikan bacan temannya itu.

4)      Setelah selesai membaca diantara siswa yang disruh tadi, maka kemudian adakanlah diskusi dan bersoal jawab terhadap bacaan tersebut. Apakah terdapat kekuarangan atau kesalahan. Dan kalau terdapat kesalahan, suruhlah temannya yang lain untuk membenarkannya. Dalam hal ini hendaknya diperhatikan juga, bahwa dalam membrtulkan suatu kesalahan, janganlahj disaat-saat “kalimat” yang dibaca belum selesai. Sebab hal itu akan dapat berakibat makna bacaan menjadi terputus, disamping dapat menghambat konsentrasi anak didik.

5)      Dan jika acara bacaan itu terlalu panjang, maka sebaiknya bacaan tersebut dibagi-bagi dalam bagian pendek / terkecil, agar sederhana dan mudah dimengerti. Dan setelah bagian tertentu dapat diselesaikan, maka dilanjutkan pada bagian yang lain, sehingga akhirnya sampai selesai. Secara keseluruhan

6)      Dalam memberikan penjelasan, hendaklah disertai dengan contoh-contoh, dan menuliskan arti kata-kata sulitnya di papan tulis untuk dicatat oleh anak didik

7)      Pada akhir setiap pelajaran selesai, guru jangan lupa menyiapkan kata-kata nasihat kepada anak didik agar tergugah / terangsang untuk giat belajar dan rajin mengulangi pelajaran yang lain.

Saran-saran yang perlu diperhatikan

1)       Bahan bacaan hendaklah disesuaikan dengn taraf pengembangan dan kemampuan anak didik

2) Jika dianggap perlu, upayakanlah alat peraga (media pengajaran), sebagai alat bantu untuk memudahkan dalam memahami bacaan yang disajikan

3)      Mula-mula guru hendaklah membacakan acara pelajaran itu dengan terang. Tidak terlalu keras hingga dapat mengganggu ketenangan kelas lain. Dan sebaliknya tidak pula terlalu kecil / lembek, sehingga tidapat didengar oleh anak didik yang duduk di belakang.

4)      Adakanlah selingan dalam bacaan, jangan suruh anak disuruh membaca terus-menerus, sehingga dapat menyebabkan anak didik menjadi bosan dan jenuh. Yang akhirnya dapat berakibat lebih jauh.

5)      Kesimpulan dan kata-kata sulit dari bacaan, hendaknya dituliskan di papan tulis, untuk kemudian menyuruh anak didik mencatatnya .

Membetulkan kesalahan dalam membaca

Kesalahan membaca dalam bahasa Arab dan Al-Qur’an akan berakibat salah pula dalam pengertiandan makna yang terkandung di dalam bacan. Oleh sebab itu, perlu hati-hati dalam membacanya. Apalagi bacaan Al-Qur’an. Kesalahan dalam membaca, dapat disebabkan antara lain sebagai berikut :

1)      Kesalahan dalam mengucapkan kata-kata dan huruf-huruf seperti kesalahan makhrajnya. Misalnya lafadz syim (     ), diganti dengan lafad sin (     ), dan lafadz dhat (     ) diganti dengan lafadz tha (    ), serta lafadz aain (    ) dibunyikan dengan ghain. Dan seterusnya.

2)      Tidak mempedulikan tanda-tanda baca Arab. Misalnya sabdu / syaddah (    ), tanda Dhammah (    ), tanda kasrah (    ), dan tanwin (     ), dan tanwin (      ). Dan lain-lain sebagainya, sehingga kesalahan dapat berakibat fatal.

3)      Kesalahan dalam tajwidnya, yang sebetulnya bacaannya harus ditebalkan, menjadi ditipiskan. Dari yang tadinya harus didengungkan menjadi bacaannya tidak didengungkan. Dan dapat pula terjadi kesalahan dalam tanda berhenti. Dalam membaca Al-Qur’an, tanda berhenti ini dapat berakibat salah dalam pengertian, manakala tanda berhenti, tidak diperhatikan. Jika terjadi kesalahan-kesalahan seperti tersebut diatas, maka guru jangan memberikan kesalahan itu menjadi berlarut, sehingga menjadi terbiasa dalam kesalahan. Misalnya seharusnya dibaca alhamdulillah hirobbli alamin (                            ).

Cara membetulkan kesalahan

Cara membetulkan kesalahan dapat kita lakukan dengan dua cara, yaitu :

1)      Kesalahan dapat dibetulkan di saat-saat selesai membaca dlam satu kalimat yang sempurna, setelah kemudian dibetulkan, baru kita lanjutkan lagi pada kalimat seterusnya. Cara ini lebih efisien dan lebih berhasil.

2)      Setelah anak didik selesai kemudian membacakan bagian bacaan yang telah ditetapkan secara keseluruhan. Misalnya anak didik salah membaca ditengah-tengah, maka cara membetulkannya yakni apabila anak didik tersebut merampungkan semua bacaan itu. Hal itu dimaksudkan agar acara bacaan tidak terputus dan tidak terpenggal, sehingga dapat pula mengganggu konsentrasi anak didik.

Metode bercakap-cakap (Muhadasah)


Writed by:  Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I

Sumber :  https://alhafizh84.wordpress.com/2010/01/17/metode-bercakap-cakap-muhadasah/

8.  Metode Bercakap-Cakap (Muhadasah)

Pelajaran muhadasah merupakan pelajaran bahasa Arab yang pertama-tama diberikan. Sebab tujuan utama pengajaran bahasa Arab adalah agar sisw mampu bercakap-cakap (berbicara) dalam pembicaraan sehari-hari dengan berbahasa Arab dan membaca Al-Qur’an, dalam salat dan do’a-do’a. yang disebut berbahasa itu adalah berbicara lisan.

Metode muhadasah yaitu cara menyajikan bahan pelajaran bahasa Arab melalui percakapan, dalam percakapan itu dapat terjadi antara guru dan murid dan antara murid dengan murid. Sambil menambah dan terus memperkaya perbendahraan kata-kata (Vocabulary) yang semakin banyak.

Di lembaga-lembaga pesantren modern seperti pesantren Gontor Ponorogo Jawa timur sangat menekankan m,etode muhadasah ini disamping metode-metode lainnya. Anak didik mulai dari tingkat dasar telah diharuskan bercakap-cakap dengan bahasa Arab disamping bahasa Inggis, meskipun mula-mula arti pembicaraan belum begitu dipahami tapi lama-kelamaan sedikit demi sedikit anak didik mulai mengerti dan memahaminya. Sehinga banyak kalangan orang menilai sistem dan metode yang dikembangkan oleh Pesantren Gontor ini sangat efektif dan dapat dicontoh.

Kalau diperhatikan lebih jauh, anak kecil belajar bahasa ibunya memanng dimulai dengan percakapan (berbicara) ini, mula-mula ia ucapkan kata-kata yang dianjurkan oleh ibunya meskipun tidak langsung ia pahami atau dimengerti, setelah agak lancar mulai ia menyusun katakata dan akhirnya lama-kelamaan menjadi mahir dan paham berbicara yang ia ucapkan itu. Jadi bukan tata bahasanya (Qawaid) yang pertama diajarkan tetapi melatih percakapannya. “Sudah bisa karena biasa”, inilah metode alamiah dan berhasil guna.

Tujuan pengajaran muhadasah

1)      Melatih lidah anak didik agar terbiasa dan fasih bercakap-cakap (berbicara dalam bahasa Arab

2)      Terampil berbicara dalam bahasa Arab mengenai kejadian apa saja dalam masyarakat dan dunia internasional apa yang ia ketahui

3)      Mampu menerjemahkan percakapan orang lain lewat telepon, radio, TV, tape recorder dan lain-lain

4)      Menumbuhkan rasa cinta dan menyenangi bahasa Arab dan Al-Qur’an, sehingga timbul kemauan untuk belajar dan mendalaminya.

Metode mengajarkan muhadasah

Ada beberapa langkah yang ditempuh dalam mengajarkan ini, yaitu :

1)      Mempersiapkan acara/materi muhadasah dengan matang dan menetapkan topik yang akan disajikan (SP tertulis)

2)      Materi muhadasah hendaklah disesuaikan dengan taraf perkembangan dan kemampuan anak didik. Jangan memberikan muhadasah dengan kata-kata dan kalimat-kalimat yang panjang yang tidak dimengerti dan dipahami oleh anak didik. Mulailah dengan kata-kata dan kalimat yang telah dikuasai oleh anak didik. Misalnya dengan memulai memperkenalkan alat-alat tulis sekolah dan peralatan rumah tangga. Dan setelah bahasa Arabnya maju maka meningkat kepada pembent ukan dan perangkaian kata-kata menjadi kalimat yang sempurna. Kemudian lingkup materi pembicaraan terus semakin diperluas dan dikembangkan selalu.

3)      Menggunakan alat peraga (sebagai alat bantu) muhadasah. Sebab dengan alat peraga dapat menjelaskan persepsi anak tentang arti dan maksud yang terkandung pada muhadasah. Disamping itu dapat menarik perhatian anak didik dan tidak menjenuhkan. Sebagai contoh : Guru bertanya kepada anak didik dengan memegang kitab yang ada ditangannnya : kemudian disuruhlah salah seorag murid untuk mengeja dengan kalimat yang sempurna, misalnya : (yang di tanganmu kitab). Dan begitulah seterusnya.

4)      Guru hendaklah menjelaskan terlebih dahulu arti kata-kata yang terkandung dalam muhadasah, dengan menuliskannya di papan tulis. Setelah murid dianggap mengerti, guru menyuruh murid untuk mencoba mempraktekkannya di depan kelas. Dan teman lainnya menyimak dan memperhatikan sebelum mendapat giliran berikutnya.

5)      Pada muhadasah tingkat lebih tinggi atas, anak didiklah yang ebih banyak berperan, sedangkan guru yang menentukan topik yang akan dimuhadasahkan. Dan setelah acara dimulai, peranan guru hanya mengatur jalannya muhadasah, agar jalannya muhadasah tetap sportif dan berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

6)      Setelah muhadasah selesai dilakukan, guru kemudian membuka forum soal jawab dan hal-hal lain yang perlu untuk didiskusikan mengenai muhadasah yang baru saja selesai. Jika ada hal-hal yang  masih belum dimengerti dan dipahami oleh anak didik, maka guru mengulangi penjelasannya lagi, dan mencatatkannya di papan tulis dan menyuruh murid untuk mencatat di buku tulisnya.

7)      Penguasaan bahasa secara aktif, itulah yang baik dan berhasil, bukan hanya penguasaan pasif. Jika bertemu orang Arab, tak mampu murid-murid berbicara/berkomunikasi. Alangkah janggalnya.

8)      Di dalam kelas, guru harus selalu berbicara di dalam bahasa Arab. Mustahil murid-murid akan pandai berbahasa Arab, jika gurunya tak pernah / jarang bicara bahasa Arab.

9)      Jika muhadasah akan dilanjutkan kembali pada pertemuan berikutnya, maka guru sebaiknya, dapat menetapkan batas dan materi yang akan disajikan berikutnya, agar siswa dapat lebih mempersiapkan dirinya. Muhadasah adalah yang terpenting dalam pelajaran bahasa Arab.

10)  Mengakhiri pertemuan pengajaran, dengan mmeberi dorongan dan semangat siswa untuk lebih giat lagi.

Saran-saran yang harus diperhatikan dalam muhadasah

1)      Berani melakukan / mempraktekkan percakapan, dengan menghilangkan perasaan malu dan takut akan salah. Prinsip yang harus dipegangi : “Yang penting berbicara / ngomong soal salah itu biasa, toh nanti akan baik dengan sendirinya”.

2)      Rajin memperbanyak perbendaharaan kata-kata dan kalimat secara kontinu. Kita dapat memperhitungkan, jika setiap hari kita dapat menghafal 10 ksoakata, maka dalam satu bulan berarti kita telah dapat menguasai kosa kata bahasa Arab sebanyak 300 kata. Nah, kalau satu tahun? Kalikan saja. Berapa jumlah kosa kata dapat kita hafal.

3)      Selalu melatih alat pendengaran dan pengucapan, agar menjadi fasih dan lancar, sehingga secara spontan, kapan dan dimana saja diperlukan. Caranya mengajar orang lain yang pandai, untuk diajak bercakap-cakap denga bahsa Arab. Atau dengan cara mendengarkan pembicaraan orang lain, baik melalui radio-siaran radio berbahasa Arab, TV, tape recorder, dan lain-lain

4)      Terus-menerus banyak membaca buku-buku dalam bahasa Arab. Buku-buku petunjuk mengenai percakapan bahasa Arab, sangat membantu kemajuan percakapan bahasa Arab anda.

5)      Menciptakan lingkungan dalam suasana bahasa Arab.

6)      Mencintai guru dan teman yang pandai bahasa Arab. Jadikan mereka sebagai teman setia. Dalam saat-saat tertentu, mereka dapat dijadikan sebagai tempat bertanya.

7)      “Ajarkanlah bahasa itu, jangan hanya mengajarkan tentang bahasa itu”. Ajar dan latihlah anak-anak berbicara bahasa Arab, jangan hany mengajar ilmu bahasa (Qawaid-qawaid melulu).

Metode Latihan Siap (Drill)


Writed by : Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I

Sumber : https://alhafizh84.wordpress.com/2010/01/16/metode-latihan-siap-drill/

7.  Metode Latihan Siap (Drill)

Metode latihan siap (drill) pengertiannya sering dikacaukab dengan istilah “ulangan”. Padahal maksud keduanya berbeda.

Latihan siap dimaksudkan yaitu agar pengetahuan siswa dan kecakapan tertentu dapat menjadi miliknya, dan betul-betul dikuasai siswa. Dengan kata lain metode latihan siap (drill) adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan/cara melatih siswa agar menguasai pelajaran dan terampil dalam melaksanakan tugas latihan yang diberikan

Sedangkan ulangan hanyalah untuk salah satu alat untuk, mengukur sejauh mana siswa telah menguasai dan menyerap pelajaran yang telah diberikan. Latihan-latihan perlu untuk ketrampilan, kemahiran dan spontanitas penguasaan hasil belajar.

Dalam pelajaran agama, metode latihan siapa dapat dilakukan misalnya : untuk melatih siswa agar terampil dalam membaca al-Qur’an, latihan ibadah salat, latihan berpuasa bulan Ramadhan, dan berbagai topik lainnya, misalnya latihan menulis kaligrafi (tulisan khat/Arab), latihan-latihan menulis ayat, bahasa Arab dan sebagainya.

Pada latihan siap (drill) untuk melaksanakan ibadah salat dalam Islam sangat ditekankan pada anak didik sedini mungkin agar dengan latihan-latihan yang dilakukan pada anak didik tidak merasa canggung setelah merasa dewasa.dan Islam memberi sangsi bagi mereka yang tidak melaksanakan setelah sampai usia baligh/dewasa. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW berbunyi :

“Perhatikanlah anak-anakmu sala ketika berumur tujuh tahun, pukullah mereka karena meningglkan salat pada waktu mereka berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah mereka dari tempat tidurmu”

Jadi Islam sangat mementingkan cara latihan siap ini dalam sistem pendidikan Islam.

Dalam pelaksanaannya metode latihan siap ini, tentunya sebelumnya siswa telah dibekali dengan pengetahuan secara teori secukupnya, kemudian siswa disuruh mempraktekkannya atas bimbingan guru sehingga menjadi mahir dan terampil

Kebaikan metode latihan siap (drill)

  1. Dalam waktu yang tidak lama siswa dapat memperoleh pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan
  2. Siswa memperoleh pengetahuan praktis dan siap pakai, mahir dan lancar
  3. Menumbuhkan kebiasaan belajar secara kontinyu dan disiplin diri, melatih diri, belajar mandiri
  4. Pada pelajarana gama dengan melalui metode latihan siap ini anak didik menjadi terbiasa dan menumbuhkan semangat untuk beramal kepada Allah

Kekurangan metode latihan siap terletak pada :

  1. Dapat menjadi pembakat dan inisiatif siswa sebab melalui cara/metode ini, ini berarti para siswa dibawah kepada konformitas dan diarahkan kepada uniformitas
  2. Siswa dapat statis dalam penyesuaian dengan situasi lingkungan yang terpaku dalam petunjuk-petunjuk praktis tertentu, serta insiatif siswa untuk mengembangkan sesuatu yang baru menjadi terikat. Hal ini berarti bertentangan dengan prinsip-prinsip teori belajar
  3. Membentuk kebiasaan yang kaku yang bersifat mekanis dan rutinitas. Kurang memperhatikan aspek intelektual anak didik
  4. Pengajaran cenderung bersifat verbalisme
  5. Dalam pelaksanaanya metode ini memakan waktu/proses yang cukup banyak/ lama
  6. Dalam pelajaran agama memerlukan ketelatenan/ketekunan serta kesabaran dari pihak guru maupun dari siswa sendiri

Prinsip-prinsip latihan siap (drill), yaitu

Berikut ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan metode latihan siap (drill) :

  1. Waktu yang digunakan dalam latihan siap (drill) cukup tersedia
  2. Latihan siap (drill) hendaklah disesuaikan dengan taraf kemampuan dan perkembangan siswa anak didik
  3. Latihan siap (drill) memiliki daya tarik dan merangsang siswa untukbelajar dan berlatih secara sungguh-sungguh
  4. Dalam latihan tersebut pertama diutamakan ketepatan kemudian kecepatan, akhirnya kedua-duanya
  5. Pada waktu latihan harus diutamakan yang esensial
  6. Latihan dapat memenuhi perbedaan kemampuan dan kecakapan individu siswa
  7. Dapat menyelingi latihan, sehingga tidak membosankan
  8. Diperlukan kesabaran dan ketelatena dari pihak guru, terutama materi pembelajaran agama

Metode Tanya Jawab


Writed by : Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I

Sumber : https://alhafizh84.wordpress.com/2010/01/16/metode-tanya-jawab/

6.  Metode Tanya Jawab

Dimaksudkan metode tanya jawab yaitu suatu cara menyajikan materi pelajaran dengan jalan guru mengajukan suatu pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk dijawab, bisa pula diatur pertanyaan-pertanyaan diajukan siswa lalu dijawab oleh siswa lainnya.

Antarametode tanya jawab dengan metode diskusi memiliki segi-segi perbedaan. Kalau pada metode tanya jawab, guru pada umumnya menanyakan kepada siswa apakah mereka telah mengerti dan memahami pelajaran yang diberikan dan bagaimana proses pemikiran yang dipakai oleh siswa. Maka dalam metode diskusi, pertanyaan guru lebih dititikberatkan untuk merangsang siswa berpikir abstrak dan kompleks serta jawaban atas pertanyaan tersebut diharapkan tidak bersifat tunggal atau mutlak adanya, akan tetapi dapat mengandung alternatif dan penafsiran yang berbeda-beda.

Metode tanya jawab tepat digunakan apabila :

  1. Untuk merangsang siswa agar perhatinnya terpusat kepada masalah/materi pelajaran yang sednag dibicarakan
  2. Sebagai pre test terhadap pelajaran yang telah diberikan
  3. Menyelingi pembicaraan untuk mendapatkan kerja sama dari siswa
  4. Memimpin pengamatan dan pikiran siswa agar terarah
  5. Untuk menguatkan pengamatan dan pengetahuan siswa yang telah dimilikinya

Metode tanya jawab kurang tepat digunakan apabila

  1. Menilai kemajuan siswa
  2. Memberi jawaban dari siswa, namun membatasi kemungkinan jawaban yang berbeda
  3. Memberi giliran pertanyaan berdasarkan urutan bangku atau absen siswa
  4. Pertanyaan hanya ditujukan kepada orang/siswa tertentu saja

Keunggulan metode tanya jawab

  1. Situasi kelas menjadi hidup/dinamis, karena siswa aktif berpikir dan memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan
  2. Melatih siswa agarberani mengemukakan pendapat secara argumentatif dan bertanggung jawab
  3. Mengetahui perbedaan pendapat antar siswa dan guru yang dapat membawa ke arah diskusi yang positif
  4. Membangkitkan semangat belajar dan daya saing yang sehat diantara siswa
  5. Dapat mengukur batas kemampuan dan penguasaan siswa terhadap pelajaran yang telah diberikan

Kelemahan metode tanya jawab

  1. Bila terjadi perbedaan pendapat, akan banyak menyita waktu untuk menyelesaikannya. Bahkan perbedaan pendapat antar guru dan siswa dapat menjurus kepada negatif, dimana siswa menyalahkan guru, dan ini besar risikonya
  2. Tanya jawab dapat menimbulkan penyimpangan dari pokok persoalan/materi pelaharan, hal ini terjadi jika guru tidak dapat mengendalikan jawaban atas segala pertanyaan siswanya
  3. Tidak cepat merangkum bahan pelajaran
  4. Tanya jawab akan dapat membosankan jika yang ditanyakan tidak ada variasi

Teknik mengajukan pertanyaan

Agar metode tanya jawab dalam pelaksanaannya dapat berjalan secara efektif, maka teknik mengajukan pertanyaan perlu diperhatikan hal-hal berikut :

  1. Mula-mula pertanyaan ditujukan kepada semua siswa baru kemudian diajukan kepada siswa tertentu yang dapat menguasi
  2. Beri siswa untukberpikir menjawab pertanyaan
  3. Pertanyaan hendaklah singkat/padat dan tidak berbelit-belit
  4. Guru tidak menjadi hakim atas pertanyaan yang diajukannya, namun memberikan kemungkinan bagi siswa untuk memberikan jawaban yang benar dan memuaskan

Saran-saran pelaksanaan metode tanya jawab

  1. Merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan secaramatang dan terencana
  2. Pertanyaan yang diajukan singkat/padat dan dapat merangsang berpikir siswa
  3. Pertanyaan disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan siswa
  4. Pertanyaan memiliki jawaban yang pasti
  5. Jawaban dari siswa dapat disempurnakan jika kurang tepat dan mengenai sasaran

Dalam pendidikan agama, metode tanya jawab dapat diterapkan dalam menyajikan bahan pelajaran : Fikih dan dalam pelajaran akhlak serta pokok-pokok bahasan lainnya yang mengandung nilai tanya jawab. Misalnya pelajaran sejarah Islam.

Pada pelajaran fiqih misalnya pokok bahasan mengenai fiqh menukahat, jinayat, mawaris, puasa, haji dan lain-lainnya. demikian juga dalam pelajaran akhlak dan sejarah Islam.

Dalam sejarah Islam metode tanya jawab ini pernah diterapkan oleh rasulullah SAW ketika beliau mengutus sahabat Mu’az bin Jabal untuk menjadi hakim di negeri Yaman. Rasulullah bertanya kepada Mu’az melalui sabdanya yang berbunyi :

“Bagaimana (Mu’az), engkau memutuskan, apabila datang kepadamu suatu perkara? Mu’az menjawab : aku putuskan berdasarkan Kitabullah. Jiika aku tidak ketemukan hukumnya dalam Kitabullah maka berdasarkan Sunnah Rasulullah, maka kuberijtihat dengan pendapatku, dan aku tidak akan mengabaikan (perkaraitu). Lalu Rasulullah mengusap-usap pundak Mu’az seraya bersabda : Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq kepada utusan Rasulullah kepada sesuatu yang diridhai oleh Rasulullah” (H.R Ahmad Abu Daud).

Metode Kerja Kelompok


Writed by: Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I
5.  Metode Kerja Kelompok

Istilah kerja kelompok mengandung arti : siswa-siswi dalam suatu kelas dibagi dalam ke dalam beberapa kelompok, baik dalamkelompok kecil maupun kelompok besar. Pengelompokkan itu biasanya didasarkan atas prinsip mencapai tujuan bersama. Dan oleh karena itu kerja kelompok berarti bekerja bersama-sama secara bergotong royong untuk mencapai tujuan yang menjadi cita-cita bersama pula.

Dengan kata lain metode kerja kelompok yaitu suatu cara menyajikan materi pelajaran dimana guru mengelompokkan siswa ke dalam beberapa kelompok atau group tertentu untuk menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan, dengan cara bersama-sama dan bertolong-tolongan

Cara pengelompokkan disini dapat pula dilakukan oleh siswa itu sendiri, dengan maksud agar siswa dapat menetapkan mana di antara teman yang dapat diajak untuk bekerja sama dalam kelompoknya. Namun pengelompokkan dapat juga dilakukan dengan cara bimbingan guru bersangkutan dengan didasari atas pertimbangan didaktis dan psikologis.

DalamAl-Qur’an banyak ayat yang menunjukkan pentingnya kerja kelompok ini menjadi prinsip dalam pendidikan Islam : Sebagaimana firman Allah yang berbunyi :

Bertolong-tolonglah untuk kebaikan dan takwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan tentang dosa dan pemusuhan

Langkah-langkah pengelompokkan yang perlu diperhatikan

  1. Tidak mengabaikan asas individualitas, dimana masing-masing siswa dalam kelompoknya dapat dipandang sebagai pribadi yang berada dari segi kemampuan dan minatnya masing-masing. Dan oleh karena itu siswa dapat dilayani sesuai dengan karakteristik mereka masing-masing
  2. Jika dimaksudkan untuk memperolehdan memperbesar peran atau partisipasi dari masing-masing siswa dalam kelompoknya
  3. Mempertimbangkan fasilitas yang tersedia/dimiliki
  4. Pembagian jenis kerja dan tujuan khusus yang hendak dicapai

Segi-segi kebaikan metode kerja kelompok :

  1. Menumbuhkan rasa kebersamaan dan toleransi dalam sikap dan perbuatan
  2. Menumbuhkan rasa ingin maju dan mendorong anggota kelompok untuk tampil sebagai kelompok yang terbaik sehingga dengan demikian terjadilah persaingan yang sehat, untuk berlomba-lomba mencari kemajuan dan prestasi dalam kelompoknya
  3. Kemungkinan terjadi adanya transfer pengetahuan antar sesama dalam kelompok yang masing-masing dapat saling isi mengisi dan melengkapi kekurangan dan kelebihan antar mereka
  4. Timbul rasa kesetiakawanan sosial antar kelompok/group yangb dilandasi motivasi kerja sama untuk kepentingan dan kebaikan bersama
  5. Dapat meringankan tugas guru atau pemimpin sekolah

Kekurangan metode kerja kelompok :

  1. Melalui metode kerja kelompok, memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang
  2. Persaingan yang tidak sehat akan terjadi manakala guru tidak dapat memberikan pengertian kepada siswa. Bahkan pembagian tugas yang dilakukan bukanlah dimaksudkan membeda-bedakan satu dengan yang lainnya dalam arti yang luas
  3. Bagi siswa yang tidak memiliki disiplin diri dan pemalas terbuka kemungkinan untuk pasif dalam kelompoknya, dan hal ini berpengaruh kepada aktivitas kelompok secara kolektif
  4. Sifat dan kemampuan individualitas kadang-kadang terasa diabaikan
  5. Jika tugas yang diberikan kepada kelompok masing-masing kemudian tidak diberikan batas-batas waktu tertentu, maka cenderung tugas tersebut diabaikan /terlupakan
  6. Tugas juga dapat terbengkalai manakala tidak mempertimbangkan segi psikologis dan didaktis anak didik

Saran-saran pelaksanaan metode kerja kelompok

  1. Usahakan jumlah anggota dari masing-masing kelompok tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil/sedikit. Biasanya jumlah anggota kelompok berkisar antara 4 (empat) sampai 6 (enam) orang, sebaiknya 5 (lima) orang
  2. Pembentukan dan pembagian kelompok hendaknya mempertimbangkan segi minat dan kemampuan siswa
  3. Guru hendaknya menjelaskan pelaksanaan dan manfaat dari tugas kerja kelompok
  4. Masing-masing siswa dalam kelompoknya harus bertanggung jawab dan bekerja bersama-sama untuk kemajuan kelompoknya

Dalam pelajaran agama, metode kerja kelompok ini dapat diterapkan. Misalnya pada pekerjaan menerjemahkan buku-buku agama yang mungkin literatur berbahasa Arab dan Inggris. Dan membahas/meresume bahan-bahan pelajaran pada bab-bab tertentu dan lain sebagainya.

Dengan melalui kerja kelompok tersebut siswa merasa tergugah untuk mendalami ajaran agama Islam yang begitu luas ini.