Keutamaan Shalat Sunnah Witir


Writed by:  Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I

Keutamaan Shalat Sunnah Witir

Shalat sunnah witir memiliki banyak sekali keutamaan, beberapa di antaranya adalah hadits dari Kharijah bin Hudzafah Al_Adwi. Ia menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menambahkan kalian dengan satu shalat, yang shalat itu lebih baik untuk dirimu daripada unta yang merah, yaitu shalat witir. Waktu pelaksanannya Allah berikan kepadamu dari sehabis Isya hingga terbut fajar.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud, At_Tirmidzi, Ibnu Majah, Al_ Hakim, dan Ahmad]

Di antara dalil yang menunjukkan keutamaan dan sekaligus disunnahkannya shalat witir adalah hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwitir, kemudian bersabda, “Wahai Ahli Alquran, lakukanlah shalat witir, sesungguhnya Allah itu witir (ganjil) dan menyukai sesuatu yang ganjil” [Hadits shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Iqamatush Shalah, hadits no. 1169. Hadits ini dishahihkan oleh Al_Albani dalam kitab Shahih Sunan Ibnu Majah, hal. I/193]

Dibolehkan Shalat Sunnah Dalam Keadaan Duduk


Writed by:  Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I

Dibolehkan Shalat Tathawwu’ Dalam Keadaan Duduk

Shalat seorang muslim sambil berdiri itu lebih utama bila ia mampu. Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu  yang berderajat marfu’, “Shalat seorang dengan duduk adalah setengah dari shalat biasa.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim]

Namun shalat tathawwu tetap sah jika dilakukan dengan cara duduk meski mampu berdiri. Imam An_Nawawi menyatakan, “Demikianlah ijma’ (kesepaka-tan) para ulama.” [Lihat Ibnu Qudamah, Al_Mughni, hal. II/567]

Demikian pula sah menjalankan sebagian shalat tathawwu’ dengan berdiri dan sebagian lagi dengan duduk. Adapun shalat wajib, maka berdiri adalah rukun di dalamnya. Sehingga orang yang mampu berdiri tetapi ia tidak berdiri padahal ia mampu, maka shalatnya batal.

Ibnul Qayyim Al_Jauziyah mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada tiga macam. Pertama, cara ini yang kebanyakan beliau lakukan adalah dengan berdiri. Kedua, sambil duduk, dan melakukan ruku’ juga sambil duduk. Ketiga, membaca bacaan dengan duduk. Bila bacaannya tinggal sedikit, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan ruku’ dengan berdiri. Ketiga cara tersebut telah diriwayatkan dengan shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Lihat Ibnul Qayyim Al_Jauziyah, Zadul Ma’ad, hal. I/131]

Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al_Qahthani dalam kitab Shalatut Tathawwu’ Mafhum wa Fadhailu wa Aqsam wa Anwa’ wa Adab fi Dhau’i Al_Kitabi wa As_Sunnati mengatakan bahwa ia pernah mendengar Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz menyatakan, “Shalat yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam hari ada empat cara, yang merupakan gabungan dari berbagai riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, yaitu:

  1. Shalat berdiri dan ruku’ sambil berdiri.
  2. Shalat sambil duduk, kemudian ketika bacaan tinggal kira_kira 30 atau 40 ayat, beliau berdiri meneruskan bacaan lalu ruku’.
  3. Shalat sambil duduk, kemudian setelah selesai bacaan langsung berdiri dan ruku’.
  4. Shalat sambil duduk dan ruku’ pun sambil duduk.

Lokasi Shalat Sunnah yang Terbaik


Writed by:  Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I

Lokasi Shalat Tathawwu’ (sunnah) yang Terbaik

Shalat sunnah dapat dilakukan baik di masjid, rumah, atau segala tempat yang suci, seperti padang pasir dan yang lainnya. Tetapi shalat sunnah di rumah itu lebih utama, kecuali untuk shalat sunnah yang disyariatkan untuk berjama’ah seperti shalat tarawih, maka dilakukan di masjid adalah lebih utama.

Adapun shalat sunnah yang tidak disyariatkan melakukannya secara berjama’ah, maka telah dijelaskan dalam banyak hadits bahwa dilakukan di rumah itu adalah lebih baik. Di antaranya adalah hadits dari Zaid bin Tsabit yang tercantum di dalamnya, “Sebaik_baik shalat seseorang adalah di rumahnya, keculai shalat wajib.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Al_Bukhari dan Muslim]

Demikian juga dengan hadits dari Jabir dan Ibnu Umar bahwa hadits_hadits tersebut menunjukkan sebaik_baik shalat itu dilakukan di rumah, kecuali shalat wajib.

Macam-Macam Shalat Tathawwu’ (Sunnah)


Writed by:  Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I

Macam_Macam Shalat Tathawwu’

Syaikh Muhammad bin Shalih Al_Utsaimin mengatakan bahwa shalat tathawwu ada bermacam_macam. Di antaranya adalah shalat sunnah rawatib yang dilakuklan secara kontinyu (terus_menerus), – seperti shalat sunnah rawatib yang dikerjalkan sebelum atau sesudah shalat fardhu –, Shalat Witir, Shalat Dhuha dan lain_lain. Ada yang disunnahkan secara berjama’ah – seperti shalat sunnah tarwih dan witir, shalah sunnah Idul Fitri dan Idul Adha –, ada juga yang merupakan shalat sunnah mutlak, ada yang disyaratkan pada waktu tertentu – shalat sunnah dhuha, tahajud, dan lain sebagainya –, ada juga yang dengan sesuatu yang lain. Semuanya disebut sebagai shalat tathawwu’.

Keutamaan Shalat Tathawwu’ (Sunnah)


Writed by:  Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I

Keutamaan Shalat Tathawwu’

1.  Shalat tathawwu’ dapat menyempurnakan shalat wajib dan menutupi keku-rangannya. Berdasarkan hadits Tamim Ad_Dari, “Yang pertama kali dihisab dari diri seorang hamba pada hari kiamat nanti adalah shalatnya. Apabila shalatnya sempurna, maka akan dituliskan pahalanya dengan sempurna. Apabila dia belum menyempurnakannya, maka Allah berfirman kepada para malaikat_Nya: ‘Lihatlah apakah kalian mendapatkan hamba_Ku itu melaku kan shalat tathawwu’ untuk menyempurnakan shalat wajibnya, demikian juga dengan zakatnya?’ kemudian baru perbuatan amal lain dihisab sesuai dengan ukuran itu.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud, dll]

2. Shalat tathawwu’ dapat mengangkat derajat seseorang dan menghapuskan kesalahannya. Berdasarkan hadits dari Tsauban mantan budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Nabi bahwa beliau bersabda, “Hendaklah engkau banyak_banyak bersujud (shalat). Sesungguhnya tidaklah engkau bersujud kepada Allah sekali saja, melainkan Allah akan mengangkatmu satu derajat, dan Allah akan menghapuskan darimu satu kesalahan.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim]

3. Memperbanyak shalat sunnah merupakan sebab terbesar masuknya sese-orang ke dalam surga, untuk menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berdasarkan hadits Rabi’ah bin Ka’ab Al_Aslami bahwa ia bercerita, “Aku pernah menginap di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku membawakan air wudhu untuk beliau dan juga untuk buang air. Beliau berkata: ‘Mintalah sesuatu.’ Aku menjawab: ‘Aku ingin menjadi orang yang menemanimu di surga.’ Beliau bertanya: ‘Apakah ada yang permintaan lain’?  Aku menjawab: ‘Itu saja.’ Beliau lalu bersabda: bantulah saya untuk meno-longmu dengan engkau memperbanyak sujud.” [Hadits shahih, diriwayat-kan oleh Muslim]

4. Shalat tathawwu’ di rumah dapat melahirkan keberkahan. Berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu selesai shalat di masjid, hendaklah ia menyisakan waktu untuk shalat di rumahnya. Karena Allah menjadikan kebaikan pada shalatnya di rumah tersebut.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim]

5. Kesempurnaan shalat tathawwu’ dapat menambah rasa syukur seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Berdasarkan hadits Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam hingga telapak kakinya bengkak. Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa anda laku-kan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa_dosa anda yang terdahulu maupun yang akan dating. Beliau menjawab: Tidakkah aku pantas menjadi hamba yang bersyukur.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Al_Bukhari dan Muslim]

Pengertian Shalat Tathawwu’ (Sunnah)


Writed by:  Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I

Pengertian Shalat Tathawwu’

Tathawwu’ secara bahasa artinya adalah nafilah yaitu segala kelebihan yang baik. [Lihat Fairuz Abadi, Al_Qamus Al_Muhith, hal. 962]

Allah Ta’ala berfirman,

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. [QS. Al_Baqa rah (2): 184]

Dengan demikian, tathawwu’ adalah perbuatan yang dilakukan secara suka rela oleh seorang muslim atas kemauan sendiri, yang bukan merupakan kewajiban bagi dirinya.