RPP dan Silabus PAI Berkarakter

Link ini saya dapatkan dari blog tetangga. saya yakin sangat bermanfaat bagi yang membutuhkannya, yaitu silabus dan RPP berkarakter untuk SMP/MTs.

Anda dapat mendownload secara bebas dan gratis perangkat pembelajaran berupa RPP dan SILABUS berkarakter disini, dari beberapa mata pelajaran SMP/MTs antara lain: BAHASA INDONESIA, BAHASA INGGRIS, MATEMATIKA, IPA, IPS, PKn, PAI, PENJASORKES, SENI DAN BUDAYA, TIK.   

RPP DAN SILABUS PAI BERKARAKTER
KELAS
RPP
SILABUS
Semester 1
Semester 2
Semester 1
Semester 2
7
8
9

Download Admnistrasi Pendidikan (Gratis dan Bebas)

Dalam rangka membantu rekan-rekan sesama pendidik dan membantu mempublikaskan hasil karya para guru tentang berbagai administrasi pendidikan. Berikut ini ada link yang dapat anda gunakan untuk mendownlod admistrasi pendidikan secara bebas dan gratis. Selamat menikmati…

Semoga bermanfaat and jangan lupa komentarnya.

  1. Analisis Hasil Evaluasi Belajar
  2. Buku Dan Bahan Rujukan Pelajaran
  3. Buku Kegiatan Lomba Siswa
  4. Buku Kunjungan Studi Banding
  5. Daftar Kenaikan Kelas Dan KelulusanBiodata Pejabat Fungsional
  6. Buku Pelajaran Pegangan Siswa
  7. Buku Penghubung Orang Tua – Wali Murid Dengan Sekolah
  8. Buku Supervisi Kelas
  9. Buku Bimbingan Dan Penyuluhan
  10. Buku Tamu Kelas
  11. Grafik Keadaan Siswa
  12. Buku Pelajaran Pegangan Guru Kelas
  13. Daftar Administrasi Lengkap
  14. Daftar Isian Nuptk
  15. Daftar Isian Pendataan Siswa
  16. Daftar Mutasi Siswa
  17. Jadwal Piket
  18. Grafik Pencapaian Target Kurikulum Dan Daya Serap Kurikulum
  19. Daftar Nilai Latihan Un Utama
  20. Daftar Nilai Rapot
  21. Daftar Penerima Beasiswa
  22. Format Peg-9 = Buku Cuti Pegawai – Guru
  23. Daftar Pelaksanaan Ekstrakurikuler
  24. Daftar Penerimaan Penghasilan Tambahan Insentip
  25. Daftar Penyerahan Ijazah Kepada Lulusan Ujian Sekolah
  26. Daftar Rekapitulasi Kenaikan Kelas Dan Kelulusan
  27. Penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Bos
  28. Daftar Riwayat Hidup – Curiculumvitae
  29. Data Penghargaan Akademis Dan Non Akademis Siswa
  30. Data Statistik Sd Penerima Dana Bos Apbd ProvinsiDaftar Pegawai Negeri Sipil
  31. Denah Uasbn Dan Daftar Hadir Pengawas Uasbn
  32. Iuran K3s
  33. Ikrar Hidup Bersih
  34. Honor Us
  35. Daftar Siswa Tdk Mampu
  36. Iuran Kkks
  37. Honor Tkd
  38. Data Siswa Dan Siswa Miskin
  39. Kuasa Surat Beasiswa
  40. Dp-3 Daftar Penilaian 3
  41. Form. Rapot Sementara
  42. Format Pk-1= Jadwal Pelajaran Umum
  43. Format Pk-2 = Daftar Pembagian Tugas Mengajar Bagi Guru
  44. Format Pk-3 = Daftar Pemeriksaan Persiapan Mengajar
  45. Format Pk-4 = Daftar Penyelesaian Kasus Sekolah
  46. Format Pk-9 = Hubungan Kemasyarakatan
  47. Format Pk-6 = Rekapitulasi Kenaikan Kelas – Kelulusan
  48. Format Pk-8 = Rekapitulasi Pelaksanaan Supervisi Kelas
  49. Format S-2 = Daftar Calon Siswa Baru Kelas 1
  50. Format S-3 = Daftar Siswa Baru Kelas 1
  51. Formats-17 = Daftar Peserta Un-Us Dan Prestasinya
  52. Formats-18 = Daftar Masuk Sltp – Mts
  53. Tanda Bukti Penerimaan Beasiswa
  54. Forrmat Peg-17b = Daftar Rangkuman Tidak Hadir Pegawai – Guru
  55. Grafik Absen Sisiswa
  56. Jadwal Guru Pembimbing Ekskul
  57. Jadwal Pelajaran Piket Thb
  58. Jadwal Pelajaran
  59. Jadwal Evaluasi Sumatif
  60. Keadaan Siswa Menurut Umur
  61. Kalender Pendidikan
  62. Kartu Inventaris Ruangan
  63. Kegiatan Pembelajaran Diluar Kelas
  64. Kalender Pendidikan
  65. Kegiatan Praktek Mata Pelajaran
  66. Buku Penyerahan Raport
  67. Kelakuan Baik
  68. Kelompok Belajar
  69. Daftar Inventaris Sarana
  70. Kisi2 Ujian Praktek Kelas Vi
  71. Komite Sd Negeri Rehab
  72. Komite Sekolah
  73. Ktsp
  74. Kwitansi Pegawas Uasbn
  75. Lpjk3s
  76. Media Alat Peraga Alat Bantu Pelajaran
  77. Monitoring
  78. Naskah Ujian Praktek
  79. Nilai Mid
  80. Nilai Super Visi Guru Kelas
  81. Notula Rapat
  82. Papan Pangkat
  83. Penelitian Tindakan Perbaikan Pembelajaran
  84. Pernyataan Kelas Vi
  85. Pernyataan Melaksanakan Tugas
  86. Peryataan Melanjutkan Ke Smp
  87. Plang Nama Sd
  88. Program Kegiatan Super Visi Kelas
  89. Proposal  Porseni Atau O2sn
  90. Proposal Block Granda Pbnp
  91. Proposal Kemah
  92. Proposal Kenaikan Kelas
  93. Proposal Meubeler
  94. Proposal Mid Semester
  95. Proposal Penerimaan Siswa Baru
  96. Proposal Pesantrenkilat Sd
  97. Proposal Program Gugus
  98. Proposal Program Ulangan Harian
  99. Proposal Program Ulum

100.v  Sk Bend. Pembantu Bos

101.Rapat Buku Bos

102.Rehab Gedung

103.Rekap Nis Dan Nisn

104.Rekomendasi Siswa Ke Smp

105.v  Rencana Kegiatan Tahunan

106.Rencana Penggunaan Dana Bos

107.v  Rencana Program Evaluasi

108.v  Rincian Tugas Pegawai Sekolah

109.Rpp Baru

110.v  S-6 = Jumlah Siswa Menurut Kelas Asal Dan Jenis Kelamin

111.v  S-7 = Jumlah Siswa Menurut Usia Kelas Dan Jenis Kelamin

112.Satuan Pendidikan

113.v  Setoran Pajak

114.v  Siswa Pstktl

115.v  Sk Bendahara Bos

116.v  Sk Pembagian Tugas Guru

117.v  Sk Prestasi Siswa

118.v  Sk Tata Tertib Sekolah

119.v  Soal Dan Analisis

120.v  Struktur Kurikulum Dan Muatan Kurikulum Ktsp

121.v  Super Visi Ulangan Umum Semester I

122.Super Visi Ulangan Umum Semesterr I

123.Surat Izin Guna

124.Surat Izin Mutasi

125.Surat Kelulusan Siswa

126.Surat Keterangan Kelakuan Baik

127.Surat Keterangan Sukwan

128.Surat Pernyataan Melanjutkan Ke Smp

129.Surat Pernyataan Rahasian Ujian

130.Surat Tugas Khusus Dokter Kecil

131.v  Tata Tertib Siswa

Download RPP Tematik SD

Dalam rangka membantu rekan-rekan sesama pendidik dan membantu mempublikaskan hasil karya para guru tentang Rencana Pembelajaran (RPP) untuk level Sekolah Dasar (SD). Berikut ini ada link yan dapat anda gunakan untuk mendownlod RPP SD tematik secara bebas dan gratis. Selamat menikmati…

Semoga bermanfaat and jangan lupa komentarnya J

Kelas 1 semester 1 (Gazal) :

Tema :

Kelas 1 semester 2 (Genap)

Tema :

Tematik kelas 2 semester 1 (Gazal)

Tema :

Kelas 2 semester 2 (Genap)

Tema :

kelas 3 semester 1 (Gazal) semester 2 (Genap) :

Tema (lengkap)  :

 

RPP DAN SILABUS KELAS 1

RPP Tematik Kelas 1 SD Bekarakter

Silabus Tematik Kelas 1 SD Berkarakter

RPP DAN SILABUS KELAS 2

RPP TEMATIK BERKARAKER SD KELAS 2

SILABUS TEMATIK Berkarakter  KELAS DUA

RPP DAN SILABUS KELAS 3

RPP TEMATIK BERKARAKTER KELAS 3 SD

SILABUS TEMATIK BERKARAKTER KELAS 3 SD

JURNAL POLITIK PENDIDIKAN (1)

Nama Mahasiswa                            : Hafiz Muthoharoh

NIM                                                       : 100103080

Kelas/Semester                                : JS.3 / Tiga (3)

Mata Kuliah                                        : Politik Pendidikan

Dosen Pembimbing                        : Prof. Dr. Muhammad Sirozi, Ph.D.

Perkuliahan ke                                 : 1 dan 2 (Sabtu, Tanggal 08 Oktober 2011)

 

 

Sebagaimana identifikasi di atas, bahwa mata kuliah kali ini adalah politik pendidikan, yang diasuh langsung oleh Prof. Dr. Muhammad Sirozi, Ph.D. Mengawali perkuliahan perdana ini beliau mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat mendasar dalam memahami politik pendidikan, yaitu hubungan antara politik dan pendidikan. Pertanyaan beliau adalah mengapa politik diperlukan dalam dunia pendidikan?

Berdasarkan beberapa jawaban dari rekan sesama mahasiswa di kelas, sudah hampir menjurus kepada jawaban yang diinginkan. Akan tetapi, jawaban atas pertanyaan di atas menjadi sangat jelas dan tepat sasaran ketika beliau mengatakan bahwa perlunya pilitik dalam dunia pendidikan, karena sering kali akar permasalahan dari berbagai persoalan pendidikan yang muncul dalam suatu masyarakat tidak hanya terdapat dalam ruang kelas dan lingkungan pagar sekolah, tetapi ada juga di pusat-pusat kekuasaan, misalnya gedung parlemen dan birokrasi.

Selanjutnya, akan saya paparkan beberapa point penting yang menjadi bahan diskusi selama perkuliahan saat itu, serta pejelasan dan kesimpulannya, baik yang dipaparkan langsung oleh Prof. Dr. Muhammad Sirozi, Ph.D. atau saya lengkapi dari beberapa referensi yang relevan.

Pertama, politik pendidikan sebagai interdisipliner.

Prof. Dr. Muhammad Sirozi, Ph.D. mengatakan bahwa politik pendidikan disebut sebagai interdisipliner, karena dalam pembahasannya menggabungkan dua disiplin ilmu, yaitu ilmu politik dan ilmu pendidikan. Hal ini senada dengan mata kuliah lainnya, seperti psikologi pendidikan, sosiologi pendidikan dan sebagainya. Dalam mata kuliah psikologi pendidikan pada dasarnya menggabungkan dua disiplin ilmu, yaitu ilmu psikologi dan ilmu pendidikan. Dan dalam pembahasan mata kuliah sosiologi pendidikan juga menggabungkan dua disiplin ilmu, yaitu ilmu sosial dan ilmu pendidikan.

Kedua, urgensi politik dalam dunia pendidikan.

Pada point ini beliau menjelaskan bahwa pendidikan dan politik adalah dua elemen penting dalam system social politik di suatu Negara, baik Negara maju maupun Negara berkembang. Keduanya sering dilihat sebagai bagian-bagian yang terpisah, yang satu sama lain tidak memiliki hubungan apa-apa. Padahal, keduanya bahu-membahu dalam proses pembentukan karakteristik masyarakat di suatu Negara. Lebih dari itu, keduanya satu sama lain saling menunjang dan saling mengisi. Lembaga-lembaga dan proses pendidikan berperan penting dalam membentuk perilaku politik masyarakat di Negara tersebut. Begitu juga sebaliknya, lembaga-lembaga dan proses politik di suatu Negara membawa dampak besar pada karakteristik pendidikan di Negara tersebut. Ada hubungan erat dan dinamis antara pendidikan dan politik di setiap Negara. Hubungan tersebut adalah realitas empiris yang telah terjadi sejak awal perkembangan peradaban manusia dan menjadi perhatian ilmuwan.

Selain itu, beliau juga mengutip sebuah ungkapan dari Abernethy dan Coombe (1965:287), ”education and politics are inextricably linked”. Artinya adalah pendidikan dan pilitik terkait tanpa bias dipisahkan. Menurut mereka hubungan timbale balik antara pendidikan dan politik dapat terjadi melalui tiga aspek, yaitu pembentukan sikap kelompok (group attitudes), masalah pengangguran (umployment), dan peranan politik kaum cendekia (the political role of the intellegentsia)

Berdasarkan penjelasan di atas, maka saya menyimpulkan bahwa hubungan antara politik dan dunia pendidikan adalah bagaikan dua sisi mata uang. Syarat mutlak sebuah mata uang agar dapat menjalankan fungsinya sebagai alat tukar, maka mata uang tersebut harus memiliki dua gambar yang sudah menjadi ketentuan di suatu Negara berdasarkan nominalnya masing-masing. Kosekuensinya, jika ada mata uang yang hanya memiliki satu gambar saja pada salah satu sisi mata uangnya, baik di bagian depan ataupun di bagian belakang, maka mata uang tersebut tidak bisa digunakan sebagai alat tukar, dan sebaliknya. Oleh karena itu, antara pendidikan dan politih memiliki hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

Ketiga, Politic is every where and belong be everyone’s.

Makna kalimat di atas kurang lebih adalah politik ada di mana-mana dan milik setiap orang. Kalau kita pahami secara mendalam ungkapan di atas benar adanya, bahwa politik tidak hanya ada di gedung DPR, gedur parlemen dan birokrasi, tapi politik juga ada di dalam rumah tangga, politik juga ada di lembaga pendidikan.

Bukti nyata dari hal di atas, misalnya dalam rumah tangga adanya pernyataan seorang istri, “uangmu adalah uangku juga, dan uangku adalah uangku.” Dari ungkapan semacam itu terdapat nuansa politik berupa keinginan seorang istri untuk menguasai segala macam keuangan dalam keluarga, sebab makna politik itu sendiri secara sederhana adalah keinginan untuk berkuasa. Selain itu, adanya keinginan suami istri untuk menerapkan pola pendidikan masing-masing kepada anak-anak mereka, sehingga menimbulkan persaingan politik rumah tangga dalam menerapkan kebijakan mereka masing-masing.

Begitu pula di lembaga-lembaga pendidikan, seperti sekolah. Adanya struktur organisasi sekolah, ditambah lagi adanya perebutan  tugas khusus antara sesama guru untuk menjadi wakil kepala sekolah, menimbulkan persaingan politik dalam mempengaruhi keputusan kepala sekolah. Siapa yang dekat dengan kepala sekolah walaupun tidak berprestasi akan mudah menduduki jabatan sebagai wakil kepada sekolah, sedangkan bagi guru yang berprestasi tapi tidak memiliki hubungan emosional dengan kepala sekolah akan sulit mendapatkan jabatan strategis dalam struktur organisasi sekolah.

Keempat, Tahun 1998 – Education – GATT (General Acomodity Trade Trafic)

Maksud point di atas adalah bahwa pada tahun 1998 melalui DATT, pendidikan menjadi salah satu barang akomoditi yang diperdagangkan di dunia. Adanya kesepakatan di atas, menimbulkan kosekuensi bagi Negara-negara yang terkait. Misalnya, Indonesia tidak bias menghalangi pemerintah Malaysia yang ingin membuka cabang Universitas mereka di Indonesia walaupun masih diikat dengan system kerjasama dengan Universitas yang berada di Indonesia. Akan tetapi, jika Universitas Malaysia tersebut sudah mampu mandiri dalam mengelolanya, dan Universitas di Indonesia tidak mampu bersaing secara sehat, maka tidak mustahil Universitas-Universitas di Indonesia akan mengalami kemunduran.

Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah

Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik

A.  Latar Belakang Manajemen Peserta Didik?

Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.  Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau pupil personnel administration sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah.

Secara sosiologis, peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan. Adanya kesamaan-kesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan kensekuensi kesamaan hak-hak yang mereka punyai. Kesamaan hak-hak yang dimiliki oleh anak itulah, yang kemudian melahirkan layanan pendidikan yang sama melalui sistem persekolahan (schooling). Dalam sistem demikian, layanan yang diberikan diaksentuasikan kepada kesamaan-kesamaan yang dipunyai oleh anak. Pendidikan melalui sistem schooling dalam realitasnya memang lebih bersifat massal ketimbang bersifat individual.

Layanan yang lebih diaksentuasikan kepada kesamaan anak  yang bersifat massal ini, kemudian digugat. Gugatan demikian, berkaitan erat dengan pandangan psikologis mengenai anak. Bahwa setiap individu pada hakekatnya adalah berbeda. Oleh karena berbeda, maka mereka membutuhkan layanan-layanan pendidikan yang berbeda.

Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sistem schooling tersebut dipertanyakan, dan sebagai responsinya kemudian diselipkan layanan-layanan yang berbeda pada sistem schooling tersebut.

Adanya dua tuntutan pelayanan terhadap siswa,– yakni aksentuasi pada layanan kesamaan dan perbedaan anak–, melahirkan pemikiran pentingnya manajemen peserta didik  untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah.

Baik layanan yang teraksentuasi pada kesamaan maupun pada perbedaan peserta didik, sama-sama diarahkan agar peserta didik berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya.

B. Tujuan dan Fungsi Manajemen Peserta Didik

Tujuan umum manajemen peserta didik adalah: mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah; lebih lanjut, proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.

Tujuan khusus manajemen peserta didik adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan psikomotor peserta didik.
  2. Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan), bakat dan minat peserta didik.
  3. Menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik.
  4. Dengan terpenuhinya 1, 2, dan 3 di atas diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka.

Fungsi manajemen peserta didik secara umum adalah: sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosialnya, segi aspirasinya, segi kebutuhannya dan segi-segi potensi peserta didik lainnya.

Fungsi manajemen peserta didik secara khusus dirumuskan sebagai berikut:

  1. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas peserta didik, ialah agar mereka dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya tanpa banyak terhambat. Potensi-potensi bawaan tersebut meliputi: kemampuan umum (kecerdasan), kemampuan khusus (bakat), dan kemampuan lainnya.
  2. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi sosial peserta didik ialah agar peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya, dengan orang tua dan keluarganya, dengan lingkungan sosial sekolahnya dan lingkungan sosial masyarakatnya. Fungsi ini berkaitan dengan hakekat peserta didik sebagai makhluk sosial.
  3. Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik, ialah agar peserta didik tersalur hobi, kesenangan dan minatnya. Hobi, kesenangan dan minat peserta didik demikian patut disalurkan, oleh karena ia juga dapat menunjang terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan.
  4. Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik ialah agar peserta didik sejahtera dalam hidupnya. Kesejahteraan demikian sangat penting karena dengan demikian ia akan juga turut memikirkan kesejahteraan sebayanya.

C. Prinsip-Prinsip Manajemen Peserta Didik

Yang dimaksudkan dengan prinsip adalah sesuatu yang harus dipedomani dalam melaksanakan tugas. Jika sesuatu tersebut sudah tidak dipedomani lagi, maka akan tanggal sebagai suatu prinsip. Prinsip manajemen peserta didik mengandung arti bahwa dalam rangka memanaj peserta didik, prinsip-prinsip yang disebutkan di bawah ini haruslah selalu dipegang dan dipedomani. Adapun prinsip-prinsip manajemen peserta didik tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Manajemen peserta didik dipandang sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah. Oleh karena itu, ia harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung terhadap tujuan manajemen secara keseluruhan. Ambisi sektoral manajemen peserta didikB tetap ditempatkan dalam kerangka manajemen sekolah. Ia tidak boleh ditempatkan di luar sistem manajemen sekolah.
  2. Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik haruslah mengemban misi pendidikan dan dalam rangka mendidik para peserta didik. Segala bentuk kegiatan, baik itu ringan, berat, disukai atau tidak disukai oleh peserta didik, haruslah diarahkan untuk mendidik peserta didik dan bukan untuk yang lainnya.
  3. Kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik haruslah diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya banyak perbedaan. Perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik, tidak diarahkan bagi munculnya konflik di antara mereka melainkan justru mempersatukan dan saling memahami dan menghargai.
  4. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan peserta didik. Oleh karena membimbing, haruslah terdapat ketersediaan dari pihak yang dibimbing. Ialah peserta didik sendiri. Tidak mungkin pembimbingan demikian akan terlaksana dengan baik manakala terdapat keengganan dari peserta didik sendiri.
  5. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah mendorong dan memacu kemandirian peserta didik. Prinsip kemandirian demikian akan bermanfaat bagi peserta didik tidak hanya ketika di sekolah, melainkan juga ketika sudah terjun ke masyarakat. Ini mengandung arti bahwa ketergantungan peserta didik haruslah sedikit demi sedikit dihilangkan melalui kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik.
  6. Apa yang diberikan kepada peserta didik dan yang selalu diupayakan oleh kegiatan manajemen peserta didik haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik baik di sekolah lebih-lebih di masa depan.

D. Pendekatan Manajemen Peserta Didik

Ada dua pendekatan yang digunakan dalam manajemen peserta didik (Yeager, 1994). Pertama, pendekatan kuantitatif (the quantitative approach). Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada segi-segi administratif dan birokratik lembaga pendidikan. Dalam pendekatan demikian, peserta didik diharapkan banyak memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan lembaga pendidikan di tempat peserta didik tersebut berada. Asumsi pendekatan ini adalah, bahwa peserta didik akan dapat matang dan mencapai keinginannya, manakala dapat memenuhi aturan-aturan, tugas-tugas, dan harapan-harapan yang diminta oleh lembaga pendidikannya.

Wujud pendekatan ini dalam manajemen peserta didik secara operasional adalah: mengharuskan kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah, memperketat presensi, penuntutan disiplin yang tinggi, menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Pendekatan demikian, memang teraksentuasi pada upaya agar peserta didik menjadi mampu.

Kedua, pendekatan kualitatif (the qualitative approach). Pendekatan ini lebih memberikan perhatian kepada kesejahteraan peserta didik. Jika pendekatan kuantitatif di atas diarahkan agar peserta didik mampu, maka pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar peserta didik senang. Asumsi dari pendekatan ini adalah, jika peserta didik senang dan sejahtera, maka mereka dapat belajar dengan baik serta senang juga untuk mengembangkan diri mereka sendiri di lembaga pendidikan seperti sekolah. Pendekatan ini juga menekankan perlunya penyediaan iklim yang kondusif dan menyenangkan bagi pengembangan diri secara optimal.

Di antara kedua pendekatan tersebut, tentu dapat diambil jalan tengahnya, atau sebutlah dengan pendekatan padu. Dalam pendekatan padu demikian, peserta didik diminta untuk memenuhi tuntutan-tuntutan birokratik dan administratif sekolah di satu pihak, tetapi di sisi lain sekolah juga menawarkan insentif-insentif lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya. Di satu pihak siswa diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas berat yang berasal dari lembaganya, tetapi di sisi lain juga disediakan iklim yang kondusif untuk menyelesaikan tugasnya. Atau, jika dikemukakan dengan kalimat terbalik, penyediaan kesejahteraan, iklim yang kondusif, pemberian layanan-layanan yang andal adalah dalam rangka mendisiplinkan peserta didik, penyelesaian tugas-tugas peserta didik.

(Dikutif dari Buku Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah oleh Prof. Dr. Ali Imron dan blog Akhmad Sudrajat)

Menantikan Malam Kemuliaan (Lailatul Qadar)

Menantikan Malam Kemuliaan (Lailatul Qadar)

Ditulis Ulang Oleh: Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I


Segala puji bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya.

Para pembaca -yang semoga dimudahkan Allah untuk melakukan ketaatan-. Perlu diketahui bahwa sepertiga terakhir bulan Ramadhan adalah saat-saat yang penuh dengan kebaikan dan keutamaan serta pahala yang melimpah. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu suri tauladan kita -Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu bersungguh-sungguh untuk menghidupkan sepuluh hari terakhir tersebut dengan berbagai amalan melebihi waktu-waktu lainnya. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa beristiqomah dalam beribadah di malam-malam kemuliaan (lailatul qadar) tersebut.

Keutamaan Lailatul Qadar

Pertama, lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1). Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya (yang artinya), Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5). Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga. Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar. (Zaadul Maysir, 6/179)

Kedua, lailatul qadar lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” Mujahid dan Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar.

Ketiga, menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi?

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Lalu kapan tanggal pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun (Fathul Baari, 6/306, Mawqi’ Al Islam Asy Syamilah). Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, itu semua tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)

Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan.

Do’a di Malam Lailatul Qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata, ”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adapun tambahan kata “kariimsetelahAllahumma innaka ‘afuwwun …tidak terdapat satu dalam manuskrip pun. Lihat Tarooju’at no. 25)

Tanda Malam Lailatul Qadar

Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh/terpercaya)

Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim no. 1174)

Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?

Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput dari lailatul qadar, maka dia telah terluput dari seluruh kebaikan. Sungguh merugi seseorang yang luput dari malam tersebut. Seharusnya setiap muslim mengecamkan baik-baik sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah ketika itu dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah. Seharusnya dia dapat mencontoh Nabinya yang giat ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)

Seharusnya setiap muslim dapat memperbanyak ibadahnya ketika itu, menjauhi istri-istrinya dari berjima’ dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan, “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksana kan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)

Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam kemuliaan (lailatul qadar) adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan bukan seluruh malam. Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 3/313, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Bagaimana Wanita Haidh Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?

Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)

Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haidh, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian lailatul qadar. Namun karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu adalah: (1) Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf, (2) Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya, (3) Memperbanyak istighfar, dan (4) Memperbanyak do’a.

Beri’tikaf Demi Menanti Lailatul Qadar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Inilah penuturan ‘Aisyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim 1172)

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika ingin beri’tikaf.

Pertama, i’tikaf harus dilakukan di masjid dan boleh di masjid mana saja. I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.

Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”. Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, ”Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid yaitu masjidil harom, masjid nabawi dan masjidil aqsho”. Perlu diketahui, hadits ini masih dipersilisihkan statusnya, apakah marfu’ (sabda Nabi) atau mauquf (perkataan sahabat).

Kedua, wanita juga boleh beri’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: (1) Diizinkan oleh suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki).

Ketiga, yang membatalkan i’tikaf adalah: (1) Keluar masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub, yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), (2) Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 187 di atas.

Keempat, hal-hal yang dibolehkan ketika beri’tikaf di antaranya: (1) Keluar masjid disebabkan ada hajat seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid, (2) Melakukan hal-hal mubah seperti bercakap-cakap dengan orang lain, (3) Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya, (4) Mandi dan berwudhu di masjid, dan (5) Membawa kasur untuk tidur di masjid.

Kelima, jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 (sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan.

Keenam, hendaknya ketika beri’tikaf, sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. (pembahasan i’tikaf ini disarikan dari Shahih Fiqih Sunnah, 2/150-158)

Semoga Allah memudahkan kita menghidupkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan dengan amalan ketaatan. Hanya Allah-lah yang memberi taufik. [Muhammad Abduh Tuasikal]

Selain itu, saya memohon kepada Allah Ta’ala dengan nama_nama_Nya yang agung dan sifat_sifat_Nya yang mulia agar menjadikan amalan saya yang sedikit ini menjadi amalan yang berkah dan ikhlash semata_mata karena mengharap wajah_Nya yang mulia, serta menjadi sarana pendekat kepada surga_Nya bagi penulis, pembaca, dan orang_orang yang ikut menyebarkannya.

Saya juga memohon kepada Allah Ta’ala agar tulisan ini bermanfaat bagi saya dan semua orang yang membutuhkannya. Sesungguhnya Allah_lah sebaik_baik tempat untuk memohon dan semulia_mulia tempat untuk berharap.

Saya mencukupkan diri bergantung kepada Allah Ta’ala, karena Dia-lah sebaik-baik pemelihara. Sekali lagi, segala puji milik Allah Ta’ala, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada penghulu manusia, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan orang_orang yang setia mengikuti beliau dengan baik hingga hari kiamat. (Abi Habiburrahman Ash-Shubhy)

Makna Puasa di Bulan Suci Ramadhan

MAKNA PUASA RAMADHAN

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang_orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari_hari yang lain. dan wajib bagi orang_orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan_penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari_hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk_Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. [QS. Al_Baqarah (2): 183-185] 

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutamakan sebagian waktu melebihi yang lain dan menuliskan sebagian hari dan malam di atas hari dan malam yang lain,[1] serta menjadikannya sebagai dagangan yang menguntungkan bagi hamba_Nya yang mukmin.  Allah subhanahu wa ta’ala juga memilih sesuatu yang dikehendaki_Nya. Allah memilih tempat yang dikehendaki_Nya, pilihan_Nya sendiri ada yang menjadi Rasul, pemimpin negara, gubernur, walikota, kepala sekolah, cendikiawan, dan sebagainya. Allah subhanahu wa ta’ala memilih gua Hira’ yang dikehendaki-Nya sebagai tempat pertemuan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Malikat Jibril ‘Alaihissalam. Kemudian Allah juga memilih Makkah Al_Mukarramah yang dikehendaki_Nya sebagai kiblat kaum Muslimin dan memilih juga kota Madinah sebagai basis pertahanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyebarkan risalah Ilahi.

Selain hal-hal di atas, Allah subhanahu wa ta’ala juga telah memilih bulan suci ramadhan sebagai bulan kemuliaan yang di dalamnya terdapat begitu banyak manfaat yang bisa diperoleh oleh umat Islam, baik yang akan dirasakan dalam kehidupan di dunia terlebih lagi di kehidupan akhirat kelak.

Dalam Islam bulan Ramadhan mempunyai makna yang istimewa dan kedudukan yang mulia. Banyak kejadian atau peristiwa penting yang terjadi pada bulan ini.[2] Sehingga sudah seharusnya kita memaknai bulan suci Ramadhan ini dengan berbagai amal kebajikan, di antaranya adalah puasa selama bulan Ramadhan.

A.            PENGERTIAN PUASA RAMADHAN

Puasa (shaum), menurut bahasa Arab artinya menahan dari segala sesuatu, seperti menahan tidur, menahan berbicara, menahan makan, dan sebagainya.[3] Hal yang serupa dikatakan oleh Usamah Abdul Aziz bahwa puasa (shaum) pada dasarnya berarti menahan diri dari melakukan suatu perbuatan, baik makan, berbicara maupun berjalan. Oleh karena itu, kuda yang tidak mau berjalan atau memakan rumput disebut shaim (kuda yang tidak mau berjalan). Penyair berkata, “Khailun Shiyaamuw wa Ukhro Ghairu Shaaimatin” artinya kuda_kuda ini tidak mau berjalan dan kuda_kuda yang lain mau berjalan.[4]

Sedangkan puasa (shaum) menurut istilah agama Islam adalah amal ibadah yang dilaksanakan dengan cara menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenam matahari disertai dengan niat karena Allah dengan syarat dan rukun tertentu.[5] Namun ada yang mengatakan bahwa puasa (shaum) adalah bentuk menahan yang khusus pada waktu yang khusus dengan cara yang khusus pula.[6] Adapun pengertian Ramadhan adalah pembakaran.[7] Istilah Ramadhan telah menjadi nama salah satu bulan dalam sistem penanggalan Hijriyah.

Dengan demikian, puasa Ramadhan adalah amal ibadah yang dilakukan dengan cara menahan yang khusus, yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa pada waktu yang khusus yaitu selama bulan Ramadhan mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari disertai niat karena Allah dengan syarat dan rukun tertentu..

B.            KEWAJIBAN PUASA RAMADHAN

Puasa Ramadhan mulai diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atau umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Sya’ban, satu setengah tahun setelah hijrah. Ketika itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam baru diperintahkan untuk mengalihkan kiblat dari Baitul Maqdis di Yerusalem ke Masjidil Haram di Makkah. Adapun perintah untuk melaksanakan puasa terdapat dalam Alquran surat Al_Baqarah ayat 183 yang berbunyi,

“Hai orang_orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang_orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” [QS. Al_Baqarah (2): 183] [8]

Kemudian, dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang akan mendapatkan kehinaan dan kerendahan jika dia memasuki bulan Ramadhan dan Ramadhan ini telah berlalu sebelum dia diampuni.” [HR. At_Tirmidzi, Ahmad, Al_Hakim, dan Ibnu Hibban] [9]

C.            PUASA DAN TAQWA

Di dalam Islam, puasa Ramadhan mempunyai tujuan dalam rangka taqwa kepada Allah Ta’ala sebagaimana dijelaskan pada akhir ayat yang berbunyi “agar kamu bertaqwa.” Adapun pengertian taqwa adalah menjaga diri dari perbuatan yang menyebabkan kemurkaan Allah dan perbuatan yang bisa mendatangkan siksa_Nya. Cara yang ditempuh untuk merealisasikan hal itu adalah dengan menjalankan perintah_perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan_Nya. Juga menjaga jiwa dari perbuatan_perbuatan dosa dan hawa nafsu, serta membersihkan diri dari berbagai macam prilaku (akhlaq) tercela.[10]

Seseorang yang menjalankan puasa Ramadhan harus mengekang diri dari tuntutan biologis, seperti makan, minum, melakukan hubungan suami istri, demi menjalankan printah Allah subhanahu wa ta’ala.

Tentu saja seseorang yang harus mengekang dirinya akan merasa berat, walaupun dilakukan demi menjalankan perintah Allah. Sepanjang bulan suci Ramadhan ia harus menahan diri dengan penuh kesabaran dan menyadari bahwa Allah selalu mengawasinya. Seandainya rasa takut terhadap larangan Allah dalam meninggalkan puasa tidak ada pada dirinya, maka ia tidak akan tahan melakukan puasa Ramadhan. Tentu saja dengan membiasakan diri dalam hal ini, akan tertanam dalam jiwanya rasa ikhlash dalam menjalankan perintah Allah, dan rasa malu jika melanggar larangan-larangan_Nya.

Puasa Ramadhan juga dapat menempa iman seseorang, sehingga kuat laksana baja dalam menghadapi hawa nafsu dan kebiasaan_kebiasaan yang membahayakan. Selain itu juga, puasa Ramadhan dapat mendidik jiwa untuk bertaqwa kepada Allah dan taat melaksanakan perintah-perintah_Nya. Kemudian, puasa Ramadhan dapat melindungi diri dari kemauan hana nafsu atau melaksanakan hal_hal yang telah diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Itulah hakikat tujuan puasa Ramadhan dan buah yang akan dipetik oleh pelakunya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai berikut: “Puasa adalah benteng (dari perbuatan maksiat), apabila salah seorang di antara kamu melakukan puasa, maka janganlah berbicara kotor dan jangan berlaku seperti orang bodoh. Jika ada yang mencari atau mengajak bertengkar, maka katakanlah, ‘Saya sedang puasa, saya sedang puasa’.” [HR. Bukhari]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda, “Barangsiapa tidak mau meninggalkan perkataan bohong dan melakukan perbuatan tercela, maka Allah tidak membutuhkan lagi puasanya.”  [HR. Bukhari]

Sabda Nabi Muhammad shalalallahu ‘alaihi wa sallam di atas, memberikan penjelasan kepada kita bahwa yang dimaksud dengan puasa tidak sekedar menahan lapar dan dahaga. Bahkan lebih dari itu, ia harus mengekang nafsu syahwat dan memadamkan api kemarahan serta menundukkan nafsu amarahnya untuk taat kepada Allah. Apabila syarat_syarat yang telah saya sebutkan tadi tidak terpenuhi pada diri seseorang yang melakukan puasa, maka Allah tidak akan memperdulikan lagi puasanya.

D.            PUASA DAN KEBAIKAN

Puasa adalah jalan menuju kebaikan. Apabila seorang yang kaya melakukan ibadah puasa Ramadhan, maka ia akan merasakan sengatan rasa lapar. Dengan demikian, ia akan merasakan belas kasihan terhadap kaum fakir miskin yang selalu mengalami rasa lapar karena hidup mereka serba kekurangan. Oleh karenanya, sebagai kifarah orang yang tidak mampu berpuasa dikarenakan sakit atau sudah tua, harus membayar makanan terhadap kaum fakir miskin sebanyak puasa Ramadhan yang tidak dilakukannya. Juga diwajibkan bagi kaum muslimin membayar zakat fitrah yang diberikan kepada kaum fakir miskin seusai bulan Ramadhan, karena pada waktu itu semua kaum muslimin bersuka ria menyambut kedatangan Hari Raya ‘Idul Fitri. Agar kegembiraan dapat merata ke segenap lapisan masyarakat, maka Islam mewajibkan memberikan zakat fitrah kepada orang_orang yang tidak mampu.

E.             PUASA DAN SABAR

Puasa Ramadhan ini serupa dengan pompa bensin, karena pada bulan ini jiwa manusia diisi dengan energi yang bisa menggerakkan dalam menempuh perjalanan hidup. Tetapi jenis energi apakah yang dipompakan ke dalam jiwa kita dalam bulan Ramadhan itu?

Jawabannya, tidak lain adalah kesabaran dalam pengertian luas, karena puasa adalah separuh dari kesabaran.[11] Seorang muslim berlaku sabar dalam menahan sengatan lapar, haus, dan meninggalkan kebiasaan_kebiasaannya pada siang hari yang dapat membatalkan puasa Ramadhannya. Ia menahan diri dengan sabar dan sukarela demi melaksanakan perintah Allah. Sukarela dalam bersabar menghadapi tekanan hawa nafsu lebih utama dari pada berlaku sabar karena dipaksa oleh keadaan. Dengan sukarela berarti seseorang menjadi tuan bagi dirinya sendiri, dan lebih mampu dalam menghadapi cobaan_cobaan hidup, yang pada kesudahannya sabar akan meresap ke dalam tulang sumsumnya.

F.             PUASA DAN KEKUATAN ROHANI

Di samping menanamkan rasa sabar, puasa Ramadhan juga dapat menempa jiwa seseorang sehingga bersikap cerah, bercahaya dan selalu dekat dengan Allah subahanhu wa ta’ala. Seorang yang melakukan puasa Ramadhan bagaikan Malaikat, jiwanya dipenuhi dengan keluhuran dan akhlaqnya tinggi. Dalam jiwanya terpancar nur rabbani, ibadah adalah reaksinya, sikap yang luhur adalah ciri khasnya, dan ia selalu merasa berada dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, Allah subhaanhu wa ta’ala berfirman sesudah memerintahkan orang_orang yang beriman untuk berpuasa dengan lafadz sebagai berikut:

“Dan apabila hamba-hamba_Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa sannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang berdoa apabila ia berdoa kepada_Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)_Ku dan hendaklah mereka beriman kepada_Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”  [QS. Al_Baqarah (2): 183] [12]

Kalau kita cermati, seolah_olah susunan urutan ayat tadi memberikan peringatan kepada umat manusia bahwa apabila mereka betul_betul melakukan ibadah puasa Ramadhan, berarti mereka telah siap melakukan munajat dengan Allah.

Apabila kita melakukan puasa Ramadhan dengan sebenar_benarnya, maka dapat menempa budi pekerti seseorang. Dengan puasa Ramadhan seseorang akan membersihkan dirinya dari dosa_dosa dan mampu membiasakan diri untuk taat terhadap Allah. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat lima waktu; dari shalat Jum’at ke shalat Jum’at lainnya; dari bulan Ramadhan ke Ramadhan lainnya adalah merupakan pelebur dosa selagi dosa_dosa besar dijauhi.” [HR. Muslim dan Imam Ahmad]

Kehidupan kita sekarang ini dipenuhi dengan kesibukan_kesibukan. Tentunya hal ini mempunyai pengaruh terhadap selera makan dan kadar makanan yang kita makan. Pada waktu itu, perut kita terus bekerja tanpa hentinya. Anggota pencernaan pun terus bekerja memproses bahan makanan yang sampai ke dalam perut.

Demikian pula pekerjaan_pekerjaan di kantor, sekolah, dan sebagainya akan mengakibatkan banyaknya kadar lemak yang mengendap dalam tubuh kita. Terutama sekali pada urat_urat nadi, yang mengakibatkan anggota_anggota tubuh seseorang cepat rapuh.

Kegemukan, penyakit kencing manis, reumatik, penyakit ginjal, tekanan darah tinggi dan komplikasi_komplikasi terhadap otak, jantung, mata dan ginjal, semua penyakit tersebut dapat dicega dengan cara berpuasa.

Seseorang yang melakukan puasa Ramadhan berarti mengistirahatkan jantung dan menstabilkan cara kerjanya sehingga semua endapan yang dapat membahayakan tubuh dapat dihilangkan. Puasa Ramadhan juga sangat berfaedah bagi hati dan empedu, karena dapat menghilangkan zat lemak dan dapat menjaga seseorang dari penyakit yang menyerang kedua organ tubuh penting tersebut.

Puasa Ramadhan juga dapat menghindarkan seseorang dari berbagai macam penyakit kulit. Di antara penyakit kulit yang dapat disembuhkan oleh puasa Ramadhan adalah penyakit eksim, allergi, dan bisul.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka puasa Ramadhan berarti mengistirahatkan alat pencernaan dan meringankan cara kerjanya, sehingga perut besar, perut kecil, dan usus dua belas jari dapat terhindar dari berbagai macam gangguan yang akan menimpa di masa_masa mendatang. Namun, semua itu dihubungkan dengan orang yang bertubuh sehat. Tetapi, bagi orang yang terkena penyakit keadaannya berbeda. Untuk itulah Islam telah mengetahui keadaan semacam ini. Allah subahanhu wa ta’ala berfirman,

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. [QS. Al_Baqarah (2): 184] [13]

Demikianlah, makna puasa Ramadhan yang dapat kita ketahui. Semoga dengan pengetahuan yang singkat ini dapat membuat puasa Ramadhan yang kita lakukan tahun ini dapat lebih bermakna dibandingkan dengan puasa Ramadhan tahun kemarin. Amin ya rabbal ‘alamin..!

Saya memohon kepada Allah Ta’ala dengan nama_nama_Nya yang agung dan sifat_sifat_Nya yang mulia agar menjadikan amalan saya yang sedikit ini menjadi amalan yang berkah dan ikhlash semata_mata karena mengharap wajah_Nya yang mulia, serta menjadi sarana pendekat kepada surga_Nya bagi penulis, pembaca, dan orang_orang yang ikut menyebarkannya.

Saya juga memohon kepada Allah Ta’ala agar tulisan ini bermanfaat bagi saya dan semua orang yang membutuhkannya. Sesungguhnya Allah_lah sebaik_baik tempat untuk memohon dan semulia_mulia tempat untuk berharap.

Saya mencukupkan diri bergantung kepada Allah Ta’ala, karena Dia-lah sebaik-baik pemelihara. Sekali lagi, segala puji milik Allah Ta’ala, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada penghulu manusia, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan orang_orang yang setia mengikuti beliau dengan baik hingga hari kiamat.

Penulis :

Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I (Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang)


[1] Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita, turun setiap malam ke langit dunia ketika malam tinggal tersisa sepertiga yang terakhir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada_Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Siapa yang memohon kepada_Ku, niscaya akan Aku perkenankan. Siapa yang memohon ampun kepada_Ku, niscaya akan Aku beri ampunan. Demikianlah terus Allah melakukan hingga datang fajar.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lihat Sa’id bin Ali bin Wahf Al_Qathani, Kumpulan Shalat Sunnah dan Keutamaannya, alih bahasa Abu Umar basyir, dari judul asli Shalatut Tathawwu’ Mafhum wa Fadhail wa Aqsam wa Anwa’ wa Adab Fi Dhau’il Kitab was Sunnah, (Jakarta : Darul Haq, 2006), cet. 4, hal. 112

[2] Di antara keistimewaan-keistimewaan dan kemulian bulan Ramadhan adalah (1). Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Alquran, (2). Ramadhan merupakan satu-satunya nama bulan yang terdapat di dalam Alquran, (3). Kemenang besar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama kaum Muslimin ketika terjadi perang Badar melawan tentara kafir Quraisy, (4). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama kaum Muslimin menaklukkan kota Makkah dan memusnakan berhala di sekitar Ka’bah, (5). Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mejadi Rasul ketika berkhalawat di Gua Hira’, (6). Allah subahanhu wa ta’ala mewajibkan berpuasa bagi setiap muslim, (7). Pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, (8). Allah subahanhu wa ta’ala memberikan ampunan kepada orang yang berpuasa dengan iman dan ikhlash mengharap ridha Allah. Lihat Tim Editor Agama, Panduan Kegiatan Bulan Ramadhan, (Surakarta: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2007), hal. 1

[3] Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, (Jakarta: At_Thahiriyah, 1976), cet. 17, hal. 216

[4] Usamah Abdul Aziz, Puasa Sunnah: Hukum dan Keutamaannya, alih bahasa Abdillah, Lc, dari judul asli Shiyam At_tathawwu’ Fadhail wa Ahkam, (Jakarta: darul Haq, 2005), cet. 2, hal. 5

[5] Muhammad Suparta dan Ghufran Ihsan, Fiqih, (Semarang: CV. Karya Toha Putra, 1996), hal. 36

[6] Lihat Al_Mawardi, Al_Inshaf (3/269).

[7] Lihat Muhammad Suparta dan Ghufron Ihsan, Fiqih, hal. 44

[8] Departemen Agama Republik Indonesia, Al_Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV. Al_Jumanatul ‘Ali, 2005), hal. 29

[9] Imam At_Tirmidzi menghukumi hadits ini sebagai hadits hasan gharib. Al_Hakim, Ibnu Hibban, dan Al_Dzahabi menghukuminya sebagai hadits shahih. Dan Ibnu Hajar menshahihkan hadits ini karena mempunyai banyak syawahid (hadits_hadits pendukung). Lihat Ahmad Ibn ‘Ali Hajar Al_Asqalani, Fath Al_Bari Sharh Shahih Al_Bukhari, (Beirut: Dar Al_Fikr, tt), Jilid. 11, hal. 168. dan lihat Ahmad Lufti Fathullah, Hadits-Hadits Lemah dan Palsu dalam Kitab Durratun Nashihin (Keutamaan Bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan), (Jakarta: Darrus Sunnah Press, 2006), hal. 70

[10] Abu Ahmadi, Dosa dalam Islam, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1996), cet. 2, hal. 191

[11] Ahmad Sunarto, Himpunan_Himpunan Khutbah Jum’ah Lengkap dan Praktis, (Jakarta: Amanah, 1979), hal. 389

[12] Departemen Agama Republik Indonesia, Al_Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV. Al_Jumanatul ‘Ali, 2005), hal. 29

[13] Departemen Agama Republik Indonesia, Al_Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV. Al_Jumanatul ‘Ali, 2005), hal. 29

Hikmah Kasus Arifinto (Menonton Video Porno Pada Sidang Paripurna)

Sebagia tulisan ini adalah kiriman dari teman facebookqu yang budiman…, tapi tentunya ada sedikit polesan krim coklat di atas adonan kue tulisan ini biar bertambah indah dan menarik perhatian pembaca.hehehe…

Tulisan ini diawali dengan kata: “Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian.” Bisa jadi sesuatu terlihat buruk di hadapan kita, namun sesungguhnya menyimpan kebaikan yang tiada terduga. Mungkin saja kasus yang saat ini merebak, yaitu anggota dewan yang tertangkap kamera wartawan tengah membuka video porno. Maka tiga hari ini publik dan media berlomba-lomba memberitakan kejadian tersebut dengan segala pernak-perniknya. Namun diantara banyaknya kecaman, hujatan, atau berita objektif sekalipun, jarang yang mencoba mengungkit apa hikmah yang ada. Mari bersama mencoba mencari mutiara dari setiap genangan lumpur kehidupan ini. Berikut sedikitnya lima hikmah Kasus Sidang Pariporno, bagi kita sebagai anak bangsa dan umat beragama.

Pertama : Bagi yang bersangkutan, maka ini merupakan teguran langsung dari Allah SWT, menjaganya agar berhenti berbuat lebih jauh. Maka ia mendapatkan kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki diri, merenungi apa-apa yang diperbuat, sehingga menjadikan kualitas keimanannya lebih baik dari sebelumnya.

Kedua : Bagi anggota DPR yang lainnya ini adalah semacam early warning, agar mereka lebih berhati-hati, menjaga dari perbuatan pelanggaran apapun, kemaksiatan ataupun korupsi sekalipun. Mereka menyadari bahwa pengawasan rakyat, media begitu kuat melekat pada diri mereka, maka mereka pun akan berbuat dan bekerja sesuai tuntutan rakyat dan undang-undang, tidak meremehkan sidang-sidang dan yang semacamnya.

Ketiga : Bagi partai yang bersangkutan, ini adalah kesempatan untuk mengevaluasi dan memperbaiki kualitas kader secara umum, dan mereka yang duduk di parlemen secara khusus. Begitu pula bagi partai politik lainnya – yang sebenarnya juga ada anggotanya yang tersangkut kasus yang lebih berat dari Arifinto – untuk mengevaluasi anggota-anggotanya, agar tidak melakukan hal yang tidak bermartabat dan mencoreng partainya.

Keempat : Bagi mereka yang gemar menonton video dan gambar porno, atau secara umum mereka yang selingkuh dan melakukan ragam kemaksiatan lagi, maka akan lebih menyadari bahwa setiap saat aib dan dosa mereka bisa terungkap. Maka hendaknya segera berhenti dari kemaksiatan tersebut, dan bertaubat sebelum semuanya terlambat.

Kelima : Bagi masyarakat Indonesia, dari kecaman dan hujatan yang ada, sedikit banyak adalah bukti bahwa kesadaran masyarakat akan bahaya pornografi semakin meningkat, dan lebih baik lagi adalah penentangan dan perlawanan atas pelaku dan penikmat pornografi. Dengan kejadian ini, maka sebagai bukti konsistensi maka ke depan tidak perlu lagi ada permasalahan penolakan UU pornografi, apalagi membela pelakunya seperti pernah terjadi saat serombongan orang mendukung Ariel dalam kasus video pornonya.

Keenam : Pengunduran diri yang bersangkutan adalah contoh yang baik bagi politisi lainnya yang juga tengah tersandung masalah. Ini menunjukkan sikap gentle dan ksatria, sehingga dalam menempuh proses hukum lebih jelas dan independen. Ini juga merupakan bentuk pertanggungjawaban moral di depan publik yang telah memilihnya. Semoga banyak pejabat lain yang terinspirasi dengan pengunduran diri ala pejabat PKS ini.

Mungkin saja ada beberapa hikmah lain yang belum terungkap, mari bersama mencarinya untuk bekal meniti hari-hari kita selanjutnya. Salam optimis !

Komentar lain dari saya dengan mencoba menerobos masuk ke dalam dinding hikmah ini, maka tahu lah qita bahwa sikap Arifinto tersebut merupakan sikap gentelmen seorang manusia sadar, yang berani mengakui sesalahannya sekaligus meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia atau perbuatannya yang memalukan dirinya, keluarganya, partainya, parlemennya dan sebagainya.

Komentar saya ini bukan tanpa alasan: tercatat mulai dari era reformasi sampai dengan kasus anggota DPR nonton video porno ini, belum ada anggota DPR yang terjerat kasus – seperti korupsi, selingkuh, main wanita – berani bersikap seperti Arifinto, malah yang keluar dari mulut mereka yang berbahaya itu, kata-kata: “terserah presiden” atau “terserah atasan” karena masih berharap menjadi anggota DPR tanpa rasa malu sedikit pun. :-(

Terakhir menutup tulisan ini saya berdoa dan berharap, semoga orang-orang seperti Arifinto lekas lenyap dari peredaran tata surya yang bernama DPR sekaligus sikap Arifinto berani mengakui dan meminta maaf serta mengundurkan diri dari jabatannya akan menjadi budaya baru dalam kubu DPR, sehingga siapa saja yang terjerat kasus segera mengakui kesalahannya jika terbukti, meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia dan segera mengundurkan diri.aamiin…!

 

Mengontrol Emosi Marah Anak

Amarah adalah hal yang wajar dirasakan setiap orang, termasuk anak-anak. Namun biasanya, anak-anak masih belum bisa mengontrol amarahnya.

Jangan biarkan rasa marah yang dirasakan si kecil membuatnya melakukan hal-hal negatif. Tugas Anda adalah mengubah energi kemarahannya menjadi sesuatu yang positif.

Beberapa kiat dari Helium berikut bisa membantu Anda.

Yang pertama kali harus Anda tekankan pada si kecil adalah: merasakan amarah bukan hal yang salah. Namun, melakukan kegiatan yang destruktif atau merusak karena marah, itu yang tak boleh dilakukan. Ajarkan padanya bahwa melepas kemarahan adalah hal yang boleh dilakukan. Namun tidak dengan menyakiti hati atau fisik orang lain karena itu adalah hal yang dilarang.

Anda bisa mengajak si kecil untuk melepas kemarahannya dengan melakukan aktivitas fisik yang ia sukai. Misalnya naik sepeda, berenang, ikut seni bela diri, basket dan masih banyak lagi. Kegiatan-kegiatan tadi akan membantu si kecil untuk melepas kemarahannya yang bisa “meledak” sewaktu-waktu.

Yang tak kalah penting untuk mengatur kemarahan si kecil adalah dengan berkomunikasi. Ajaklah anak Anda berbicara dari hati ke hati. Tanyakan padanya: Apa atau siapa yang membuatnya marah? Tunggulah dengan sabar hingga ia bisa mencurahkan segala perasaannya. Buatlah ia nyaman dan jangan menghakimi perasaannya. Si kecil pasti lebih tenang.

Semoga sukses!

Sumber: www.yahoo.com

Di Bawah Lindungan Nubuwah dan Risalah

Sambungan…

Di Bawah Lindungan Nubuwah dan Risalah

Jibril Turun Membawa Wahyu

Marilah kita dengarkan penuturan Aisyah radiyallahu anha, yang hendak meriwa-yatkan kepada kita kisah kejadian ini, yang berbinar karena cahaya dari Allah, menguak tabir kegelapan kekufuran dan kesesatan, hingga dapat merubah kehidupan dan meluruskan garis sejarah. Dia berkata,  “Awal permulaan wahyu yang datang kepada Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berupa mimpi yang hakiki di dalam tidur beliau. Beliau tidak melihat sesuatu di dalam mimpinya melainkan ada sesuatu yang datang menyerupai fajar subuh. Kemudian beliau paling suka mengasingkan diri. Beliau menyendiri di gua Hira’ dan beribadah di sana pada malam_malam hari sebelum pulang ke keluarga dan mengambil bekal. Beliau menemui khadijah dan mengambil bekal seperti biasanya, hingga datang kebenaran takala beliau sedang berada di gua Hira’. Malaikat mendatangi beliau seraya berkata, “bacalah!” aku menjawab, “aku tidak bisa membaca.”

Dia (malaikat Jibril) memegangku dan merangkulku hingga aku merasa sesak. Kemudian melepaskanku, seraya berkata lagi, “bacalah!” aku menjawab, aku tidak bisa membaca.”

Dia memegangiku dan merangkulku hingga ketiga kalinya hingga aku merasa sesak, kemudian melepaskanku, lalu berkata,

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan. Dia telah mencip-takan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan penataran al_qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya,” [QS. Al-‘Alaq (96): 1-5]

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang bacaan ini dengan hati yang bergetar, lalu pulang menemui Khadijah binti Khuwailid, seraya bersabda, “Seli-mutilah aku, selimutilah aku!” maka beliau diselimuti hingga badan beliau tidak lagi menggigil layaknya terkena demam.

Apa yang terjadi padaku? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Khadijah. Maka dia memberitahukan apa yang baru saja terjadi. Beliau bersabda, “Aku khawatir terhadap keadaan diriku sendiri.”

Khadijah berkata, ”Tidak Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu  selama-nya, karena engkau suka menyambung tali persaudaran, ikut membawa beban orang lain, memberi makan orang yang miskin, menjamu tamu, dan menolong orang yang menegakkan kebenaran.”

Selanjutnya Khadijah binti Khuwailid membawa beliau pergi menemui Waraqqh bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak paman Khadijah. Waraqah adalah seo-rang Nasrani semasa Jahilliyah. Dia menulis buku dalam bahasa Ibrani dan juga menulis Injil dalam bahasa Ibrani seperti yang dikehendaki Allah. Dia sudah tua dan buta.

Khadijah binti Khuwailid berkata kepada Waraqah, ”Wahai anak pamanku, dengarkanlah  kisah dari anak saudaramu (Rasulullah).”

Waraqah berkata kepada beliau, ”Apa yang pernah engkau lihat wahai anak saudaraku?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan apa saja yang pernah dili-hatnya. Akhirnya Waraqah berkata, “Ini adalah Namus yang diturunkan Allah kepada Musa. Andaikan saja aku masih muda pada masa itu. Andaikan saja aku masih hidup takala kaummu mengusirmu.”

Beliau bertanya. “Benarkah mereka akan mengusirku?”

“Benar. Tak seorang pun pernah membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Andaikan aku masih hidup pada masamu nanti, tentu aku akan membantumu dengan sungguh_sungguh.” Waraqah meninggal dunia pada saat_ saat turun wahyu. [Lihat Muhammad bin Isma’il Al_Bukhari, Shahih Al_Bukhary, (India: Al_Maktabah Ar_Rahimiyyah, 1387 H), hal.1/2-3. Al_Bukhari mentakhrij dalam kitabnya At_Tafsir wa Ta’birur Ru’ya dengan sedikit perbedaan lafaznya]

Ath_Thabary dan Ibnu Hisyam meriwayatkan, yang intinya menjelaskan bahwa Beliau pergi meninggalkan gua Hira’ setelah mendapat wahyu, lalu menemui isteri Beliau dan pulang ke Makkah. Adapun riwayat Ath_Thabrary menyebutkan sekilas tentang sebab keluarnya beliau dari gua Hira’. Inilah riwayatnya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada makhluk Allah yang paling kubenci selain dari penyair atau orang tidak waras. Aku tidak kuat untuk memandang keduanya.“ Beliau juga bersabda, “Yang paling ingin aku jauhi  adalah penyair atau orng yang tidak waras. Sebab orang_orang Quraisy senan-tiasa berbicara tentang diriku dengan syair itu. Rasanya ingin aku mendaki gunung yang tinggi, lalu menerjunkan diri dari sana agar aku mati saja, sehingga aku bisa istirahat dengan tenang.”

Beliau bersabda lagi, “Maka aku pun pergi dan hendak melakukan hal itu. Namun ditengah gunung, tiba_tiba aku mendengar suara yang datangnya dari langit, berkata, “Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah, dan aku Jibril.”

Aku mendongakkan kepala kea rah langit, yang ternyata di sana ada Jibril dalam rupa seorang laki_laki dengan wajah yang berseri, kedua telapak kakinya menginjak ufuk langit, seraya berkata, “Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah dan aku Jibril.”

Aku berdiam diri sambil memandangnya, bingung apa yang hendak aku kerja-kan, tidak berani melangkah maju atau mundur. Aku memalingkan wajah dari arah yang ditempati Jibril di ufuk langit. Tapi setiap kali aku memandang arah langit yang lain, di sana tetap ada Jibril yang kulihat. Aku tetap diam, tidak selangkah kaki pun maju ke depan atau surut ke belakang, hingga akhirnya Khadijah binti Khuwailid mengirim beberapa orang untuk mencariku. Bahkan mereka sampai ke Makkah dan kembali lagi menemui Khadijah tanpa hasil, padahal aku tetap berdiri seperti semula di tempatku berdiri. Kemudian Jibril pergi dari ku dan aku pun pulang kembali menemui keluargaku. Sesampainya di rumah aku langsung duduk di atas paha Khadijah sambil bersandar kepadanya.

Khadijah berkata. “Wahai Abu Qasim, kemana saja engkau tadi? Demi Allah, aku telah mengirim beberapa orang untuk mencarimu hingga mereka sampai di Makkah, namun kembali lagi tanpa hasil.” Kemudian aku memberitahukan apa yang telah aku lihat. Dia berkata, “bergembiralah wahai anak pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi diri Khadijah yang ada di tangan_Nya, aku benar-benar sangat berharap engkau menjadi Nabi umat ini.”

Setelah itu Khadijah beranjak pergi untuk menemui Waraqah dan mengabarkan kepadanya. Waraqah berkata, “Mahasuci, Mahasuci. Demi diri Waraqah yang ada di tangan –Nya, Namus Yang Besar yang pernah datang kepada Musa kini telah datang kepadanya. Dia adalah benar_benar nabi umat ini. Katakanlah kepada-nya, agar dia berteguh hati.”

Khadijah pulang lalu mengabarkan apa yang dikatakan Waraqah kepadanya. Takala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan isterinya dan pergi ke Makkah, beliau bertemu Waraqah. Setelah mendengar penuturun langsung dari beliau, Waraqah berkata, “Demi diriku yang ada di tangan_Nya, engkau adalah benar_benar nabi umat ini. Nama yang besar telah datang kepadamu, seperti yang pernah datang  kepada Musa.” [Riwayat ini diringkas dari kitab As_ Sirah An_Nabawiyah karya Muhammad bin Abdul Malik bin Hisyam bin Ayyub Al_Humary]

Wahyu Terputus

Mengenai jangka waktu terputusnya wahyu, Ibnu Sa’d meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang intinya menjelaskan bahwa jangka waktu terputusnya wahyu adalah beberapa hari saja. Inilah pendapat yang kuat dan bahkan pendapat yang bisa dipastikan, setelah mengadakan penelitian dari segala sisi. Adapun pendapat yang menyebar bahwa masa terputusnya wahyu itu berlangsung selama tiga tahun atau dua setengah tahun adalah pendapat yang tidak benar.

Pada masa_masa terputusnya wahyu itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya diam dalam keadaan termenung sedih. Rasa kaget dan bingung melingkupi diri beliau. Imam Al_Bukhari dalam kitab Kitabut Ta’bir meriwayatkan yang isinya sebagai berikut: “Wahyu terputus selang beberapa waktu, hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dirundung kedukaan seperti halnya diri kita yang sedang berduka. Beberapa kali beliau pergi ke puncak gunung agar mati saja di sana. Tetapi setiap kali beliau sudah mencapai puncaknya dan terbesit keinginan untuk terjun dari sana, maka muncul bayangan Jibril yang berkata kepada beliau, ‘Wahai Muhammad, engkau adalah benar_benar Rasul Allah.’ Dengan begitu hati dan jiwa beliau menjadi tenang kembali. Setelah itu beliau pulang kembali. Jika kevakuman wahyu itu berselang lagi, maka beliau melakukan hal yang sama. Namun selagi sudah tiba di puncak gunung, maka tiba_tiba muncul bayangan Jibril dan mengatakan hal yang sama.” [Muhammad bin Isma’il Al_Bukhari, Kitabut Ta’bir bab Awwalu Ma Budi’a Bihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Minal Wahyi Ar_Ru’ya Ash_Shalihah, hal. 2/340]

Jibril Turun Membawa Wahyu untuk Kedua Kalinya

Al_Hafizh Ibnu Hajar Al_Asqalani menuturkan, “Selama wahyu terputus untuk beberapa hari lamanya, beliau ingin ketakutan dan kedukaannya segera sirna dan kembali seperti sebelumnya. Tatkala bayang_bayang kebingungan mulai surut, tanda_tanda kebenaran mulai membias, dan beliau menyadari secara yakin bahwa kini beliau benar_benar menjadi seseorang Nabi Allah Yang Maha Besar dan Maha Tinggi, bahwa yang mendatangi beliau adalah duta pembawa wahyu yang menyampaikan pengabaran langit. Kegelisahan dan penantiannya terhadap kedatangan wahyu merupakan sebab keteguhan hatinya jika wahyu itu datang lagi, maka Jibril benar_benar datang lagi untuk kedua kalinya.”

Imam Al_Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa dia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan masa turunnya wahyu. Beliau bersabda, “Tatkala aku sedang berjalan, tiba_tiba aku mendengar sebuah suara yang berasal dari langit. Aku mendongakkan pandangan ke arah langit. Ternyata di sana ada malaikat yang mendatangiku di gua Hira’, sedang duduk di sebuah kursi, menggantung di antara langit dan bumi. Aku mendekati-nya hingga tiba_tiba aku terjerembab ke atas tanah. Kemudian aku menemui keluargaku dan kukatakan, “Selimutilah aku, selimutilah aku.!”

Lalu Allah Ta’ala menurunkan surat Al_Muddatsir ayat 1-5 sebagai berikut:

  1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
  2. Bangunlah, lalu berilah peringatan!
  3. Dan Tuhanmu agungkanlah!
  4. Dan pakaianmu bersihkanlah,
  5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,

Setelah turunnya ayat di atas, maka  wahyu datang secara berturut_turut. [Lihat Muhammad bin Isma’il Al_Bukhari, Kitabut Ta’bir bab War_Rujza Fahjur, hal. 2/733]

Sedikit Penjelasan Tentang Pembagian_Pembagian Wahyu

Sebelum kita mulai merincikan kehidupan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa risalah dan nubuwah, maka ada baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu pembagian_pembagian wahyu, yang merupakan sumber risalah dan batasan_batasan dakwah. Ibnul Qayyim Al_Jauziyah berkata bahwa tingkatan_ tingkatan wahyu adalah sebagai berikut:

  1. Mimpi yang hakiki. Ini merupakan permulaan wahyu yang turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. kepada Allah, baguskanlah dalam meminta, dan janganlah kalian mengang-gap lamban datangnya rezki, sehingga kalian mencarinya dengan cara mendurhakai Allah, karena apa yang ada di sisi Allah Ta’ala tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan manaati_Nya.”
  1. Malaikat muncul di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rupa seorang laki_laki, lalu berbicara dengan beliau hingga beliau bisa menang-kap secara langsung apa yang dibicarakannya. Dalam tingkatan ini kadang_ kadang para sahabat juga bisa melihatnya.
  1. Wahyu itu datang menyerupai wahyu gemerincing lonceng. Ini merupakan wahyu yang paling berat dan malaikat tidak terlihat oleh pandangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga dahi beliau berkerut mengeluarkan keringat sekalipun pada waktu yang sangat dingin, dan hingga hewan tunggangan beliau menderum ke tanah jika beliau sedang menaikinya. Wahyu ini sekali pernah datang tatkala paha beliau berada di atas Zaid bin Tsabit, sehingga Zaid merasa keberatan dan hampir saja dia tidak kuat me-nyangganya.
  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa melihat malaikat dalam rupa aslinya, lalu menyampaikan wahyu seperti yang dikehendaki Allah Ta’ala kepada beliau. Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al_Atsari dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al_Hamd mengatakan wahyu seperti ini pernah datang dua kali, sebagaimana yang disebutkan Allah Ta’ala dalam surat An_Najm ayat 13-14 dan surat At_Takwir ayat 22-23.

Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. [QS.An_Najm (53): 13-14]

  1. Wahyu yang disampaikan Allah Ta’ala kepada beliau, yaitu di atas lapisan_lapisan langit pada malam Mi’raj, berisi kewajiban shalat dan lain_ lainnya.
  1. Allah Ta’ala berfirman secara langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menggunakan prantara, sebagaimana Allah Ta;ala berfirman dengan Musa bin Imran. Wahyu semacam ini secara pasti berlaku bagi Musa berdasarkan nash Alquran dan menurut penuturan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tentang Isra’.

Apa yang disusupkan ke dalam jiwa dan hati beliau, tanpa dilihatnya, seba-gaimana yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Ruhul_Qudus menghembuskan ke dalam diriku, bahwa suatu jiwa sama sekali tidak akan mati hingga disempurnakan rezkinya. Maka bertaqwalah kepada Allah, baguskanlah dalam meminta, dan janganlah kalian menganggap lamban datangnya rezki, sehingga kalian mencarinya dengan cara mendurhakai Allah, karena apa yang ada di sisi Allah Ta’ala tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan manaati_Nya.”

  1. Wahyu yang disampaikan Allah Ta’ala kepada beliau, yaitu di atas lapisan_lapisan langit pada malam Mi’raj, berisi kewajiban shalat dan lain_ lainnya.
  1. Allah Ta’ala berfirman secara langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menggunakan prantara, sebagaimana Allah Ta;ala berfirman dengan Musa bin Imran. Wahyu semacam ini secara pasti berlaku bagi Musa berdasarkan nash Alquran dan menurut penuturan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tentang Isra’.

Sebagian pakar sejarah menambahi dengan tingkatan wahyu yang kedelapan, yaitu Alla Ta’ala berfirman secara langsung di hadapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ada tabir. Ini termasuk masalah yang dipertindakan oleh ulama salafus sholeh dan ulama khalaf. Begitulah uraian singkatan tentang tingkatan_tingkatanu, dari yang pertama hingga kedelapan. Namun yang pasti tingkatan yang terakhir ini merupakan pendapat yang tidak kuat. [Lihat Syamsudin Abu Abdullah Muhammad bin Bakr bin Ayyub, yang dikenal dengan nama Ibnul Qayyim Al_Jauziyah, Zadul Ma’ad, hal. 1/18]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.