Alhamdulillah..! Guru PAI SMP Negeri 10 Lahat Berpartisipasi Dalam Launching Gerakan Payo Lahat Mengaji


Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh.

img_20161106_154551

Bismillahir Rahmaanir RahiimRahiim

Guru-guru itu adalah Hafiz Muthoharoh, M.Pd.I., Wiwin Asroni, S.Pd.I., Herpansyah, S.Pd.I., dan Barnas Almunawir, S.Pd.

Alhamdulillah… Acara Lauching Gerakan Payo Lahat Mengaji (Belajar Membaca Al-Qur’an Berirama Dengan Baik dan Benar) telah terselenggara dengan baik dan lancar sesuai dengan yang direncanakan.

Acara ini diselenggarakan pada hari Ahad, 6 Shafar 1438 H/ Minggu, 6 November 2016 di Masjid Al-Hidayah Talang Kapuk Lahat.

Baca lebih lanjut

Kedekatan Nasrani dengan Umat Islam Dalam Sirah Nabawiyah


Assalamu’alikum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh

IMG_20160215_140059252

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Hubungan antara pemeluk Islam dan Kristen dalam sirah nabawiyah cukup unik, khususnya kalau dibandingkan dengan di masa sekarang ini, khususnya dalam kontek bangsa Indonesia.

Di masa Rasulullah SAW, umat kristiani umumnya digambarkan punya kedekatan khusus, dibandingkan dengan umat Yahudi yang sama-sama ahli kitab. Apalagi dibandingkan dengan bangsa Arab Musyrikin Mekkah, yang teramat besar permusuhannya.

Kalau kita telurusi sejarah Rasulullah SAW dan para shahabat, maka akan kita temukan bahwa banyak sekali kejadian yang menunjukkan betapa dekatnya para pemeluk agama masehi dengan umat Islam. Marilah kita simak point-point berikut ini tentang kedekatan Nasrani dengan umat Islam dalam sirah nabawiyah.

Baca lebih lanjut

Di Bawah Lindungan Nubuwah dan Risalah


Sambungan…

Jibril Turun Membawa Wahyu

Marilah kita dengarkan penuturan Aisyah radiyallahu anha, yang hendak meriwa-yatkan kepada kita kisah kejadian ini, yang berbinar karena cahaya dari Allah, menguak tabir kegelapan kekufuran dan kesesatan, hingga dapat merubah kehidupan dan meluruskan garis sejarah. Dia berkata,  “Awal permulaan wahyu yang datang kepada Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berupa mimpi yang hakiki di dalam tidur beliau. Beliau tidak melihat sesuatu di dalam mimpinya melainkan ada sesuatu yang datang menyerupai fajar subuh. Kemudian beliau paling suka mengasingkan diri. Beliau menyendiri di gua Hira’ dan beribadah di sana pada malam_malam hari sebelum pulang ke keluarga dan mengambil bekal. Beliau menemui khadijah dan mengambil bekal seperti biasanya, hingga datang kebenaran takala beliau sedang berada di gua Hira’. Malaikat mendatangi beliau seraya berkata, “bacalah!” aku menjawab, “aku tidak bisa membaca.”

Baca lebih lanjut

Di Bawah Lindungan Nubuwah Dan Risalah


Di Gua Hira’

Berdasarkan beberapa hasil penelitian bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum itu telah membentangkan jarak pemikiran antara diri beliau dengan kaum beliau. Ketika usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hampir mencapai empat puluh tahun, sesuatu yang paling disukai adalah mengasingkan diri. Dengan membawa roti dari gandum dan air, beliau pergi ke gua Hira’ di Jabal Nuur, yang jaraknya kira_kira dua mil dari kota Makkah, suatu gua yang tidak terlalu besar, yang panjangnya empat hasta dan lebarnya antara tiga perempat hingga satu hasta. Kadang_kadang keluarga beliau ada yang menyertai ke sana. Selama bulan Ramadhan beliau berada di gua ini, dan tidak lupa memberikan makanan kepada setiap orang miskin yang juga datang ke sana. Beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah, memikirkan keagungan alam di sekitarnya dan kekuatan tidak terhingga di balik alam. Beliau tidak pernah merasa puas melihat keyakinan umatnya yang penuh dengan kemusyrikan dan segala persepsi mereka yang tidak pernah lepas dari tahayul. Sementara itu, di hadapan beliau juga tidak ada jalan yang jelas dan mempunyai batasan_batasan tertentu, yang bisa menghantarkan kepada keridhaan dan kepuasan hati beliau.

Baca lebih lanjut

Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Dan 40 Tahun Sebelum Nubuwah (Bagian 4)


Renovasi Ka’bah dan Pengambilan Keputusan

Pada usia tiga puluh lima tahun, orang_orang Quraisy sepakat untuk merenovasi Ka’bah, karena Ka’bah itu berupa susunan batu_batu, lebih tinggi dari badan manusia, tepatnya sembilan hasta yang dibangun sejak masa Isma’il, tanpa ada atapnya, sehingga banyak pencuri yang suka mengambil barang_barang ber-harga yang tersimpan di dalamnya. Lima tahun sebelum kenabian, kota Makkah dilanda banjir besar hingga meluap ke Baitul Haram, sehingga sewaktu_waktu bisa membuat Ka’bah menjadi runtuh. Dan kondisi seperti itu membuat bangun-an Ka’bah semangkin rapuh dan dinding_dindingnya pun sudah pecah_pecah. Sementara itu, orang_orang Quraisy dihinggapi rasa bimbang antara merenovasi dan membiarkannya apa adanya. Namun akhirnya mereka sepakat untuk tidak memasukan bahan –bahan bangunannya kecuali yang baik-baik. Mereka tidak menerima masukan dari maskawin dari para pelacur, jual beli dengan sistem riba dan perampasan terhadap harta orang lain. Sekalipun begitu mereka merasa takut untuk merobohkannya. Akhirnya Al_Walid bin Mughirah Al_Makhzumy mengawali perobohan bangunan Ka’bah, lalu diikuti oleh semua orang, setelah tahu tidak ada sesuatu pun yang menimpa Al_Walid. Mereka terus bekerja merobohkan setiap bangunan Ka’bah, hingga sampai rukun Ibrahim. Setelah itu mereka siap membangunnya kembali.

Baca lebih lanjut

Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Dan 40 Tahun Sebelum Nubuwah (Bagian 3)


Perang Fijar

Pada usia lima belas tahun, meletus Perang Fijar antara pihak Quraisy bersama Kinanah, berhadapan dengan pihak Qais Ailan. Komandan pasukan Qaraisy bersama Kinanah dipegang oleh Harb bin Umayyah, karena pertimbangan usia dan kedudukannya yang terpandang. Pada mulanya pihak Qais Ailan yang mendapat kemenangan. Namun kemudian beralih ke pihak Quraisy bersama Kinanah.

Dinamakan Perang Fijar, karena terjadi pelanggaran terhadap kesucian tanah haram dan bulan_bulan suci. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut berga-bung dalam peperangan ini dengan cara mengumpulkan anak panah bagi paman_paman beliau untuk dilemparkan kembali ke pihak musuh. [Lihat Fu’ad Hamzah, Qalbu Jaziratil ‘Arab, (Mesir: Al_Mathba’ah As_Salafiyyah wa Maktabuha, 1923 M), hal. 260]

Baca lebih lanjut

Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan 40 Tahun Sebelum Nubuwah (Bagian 2)


Kembali ke Pangkuan Ibunda Tercinta

Dengan adanya peristiwa pembelahan dada itu, maka Halimah As_Sa’diyah merasa khawatir terhadap keselamatan beliau, sehingga dia mengembalikannya kepada ibunya. Kemudian beliau hidup bersama ibunda tercinta hingga berumur enam tahun.

Beberapa waktu kemudian Aminah binti Wahb merasa perlu untuk mengenang suaminya yang telah meninggal dunia dengan cara mengunjungi kuburannya di Yatsrib Madinah. Maka dia pergi dari Makkah menempuh perjalanan sejauh 500 KM, bersama putranya yang yatim, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, disertai pembantu wanitanya, yaitu Ummu Aiman. Setelah menetap selama satu bulan di Madinah, maka Aminah binti Wahb dan rombongannya siap_siap untuk kembali ke Makkah. Dalam perjalanan pulang itu dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia di Abwa’, yang terletak di antara Makkah dan Madinah. . [Lihat Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam bin Ayyub Al_Humary, As_Sirah An_Nabawiyah, (Mesir: Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Musthafah Al_Baby Al_Halaby wa Auladuhu, 1375 H), cet. 2, hal. 1/168; dan lihat juga kitab Talliqihu Fuhumi Ahli Atsar karya Abul Fajar Abdurrahman bin Al-Jauzy, hal. 8]

Baca lebih lanjut